Limnoecology’s Blog

TINJAUAN LIMNOLOGI PERAIRAN TAWAR KALIMANTAN TENGAH

Posted on: June 14, 2009

EMI  YULIASTUTI

406342401028

BIOLOGI’06 “GG”

ANALISIS KRITIS LIMNOLOGI

TINJAUAN LIMNOLOGI PERAIRAN TAWAR KALIMANTAN TENGAH

Limnological Overview of the Freshwater Ecosystem in Central Kalimantan

Ardianor dan Sulmin Gumiri

Staf Pengajar Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan,

Jurusan Perikanan, Fak. Pertanian, Universitas Palangka Raya (UNPAR)

Journal of Tropical Fisheries (2006) 1(2): 98 — 110 Ardianor dan Sulmin Gumiri : Tinjauan Limnologi …

Jurusan Perikanan, Faperta-UNPAR 98

ABSTRAK

Kalimantan Tengah adalah salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki perairan tawar terbesar. Terdapat 11 sungai yang berkuran besar berserta cabang dan rantingnya dimana berasosiasi lebih dari 500 buah danau berukuran kecil, serta rawa yang juga cukup banyak jumlahnya. Kajian limnologi terhadap ekosistem perairan tawar di Kalteng masih terus berjalan. Sejumlah besar publikasi ilmiah dimulai secara simultan sejak tahun 1997, meliputi aspek-aspek fisika-kimia dan hidrologi perairan, biota perairan yaitu plankton, benthos dan ikan serta siklus energi di dalamnya. Gambaran limnologi dalam tulisan ini disajikan sebagai awal dari kegiatan perangkuman kondisi limnologis ekosistem perairan tawar di Kalimantan Tengah sampai dengan tahun 2004. Setelah tahun 2004, kajian yang lebih mendalam telah banyak dilakukan oleh para limnologis khususnya di Universitas Palangkaraya bekerjasama dengan beberapa Universitas di Jepang serta Peneliti Limnologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Barangkali secara bertahap tulisan secara menyeluruh akan disajikan pada tulisan ilmiah berikutnya.

Kata kunci : limnologi, ekosistem, perairan tawar

ABSTRACT

Central Kalimantan is one of the provinces in Indonesia that has large area of freshwater body. Occupied by 11 big rivers and also it’s branches are associated more than 500 small size of lakes and a lot of swamps. Study on limnological aspects of those freshwater ecosystems are on going by many researchers of both Indonesia and overseas. A lot of academic publication has been published since 1997, involving physico-chemical and hydrological aspects, aquatic biota such as plankton, benthos and fish, and energy cycling. Limnological features within this note are presented as prior in compiling and summarizing of state-of-the art of limnological condition in freshwater ecosystem of Central Kalimantan until 2004. After 2004, the deep studies have been done by Indonesian and Japanese scientists under the Core Collaboration between LIPI and JSPS. Further, It would be gradually summarized and published to the next papers or notes.

Keywords : limnology, ecosystem, freshwater.

PENDAHULUAN

Perairan pedalaman (inland water) diistilahkan bagi semua badan air yang berada di daratan. Ilmu yang mempelajari masalah perairan pedalaman atau perairan umum disebut Limnologi. Bentuk-bentuk perairan umum tawar alami yang telah dikenal luas ialah sungai (river atau stream), rawa (swamp) dan danau (lake). Selain alami perairan umum juga dapat dibentuk oleh manusia misalnya waduk (resevoir) dari sungai (waduk sunga) maupun dari rawa (waduk rawa) (Suwignyo, 1982). Air perairan pedalaman umumnya tawar meskipun ada beberapa badan air yang airnya asin; dimana air asin di daratan disebut athalassic saline water. Goldman and Horne (1983) menerangkan bahwa ilmu limnologi mencakup perairan tawar sampai dengan perairan estuaria (payau) di muara sungai.

Limnologi merupakan cabang ilmu ekologi yang secara khusus mempelajari perairan daratan. Sebelum mendiskusikan ekologi perairan tawar secara umum di Kalimantan Tengah, ada baiknya kalau kita melihat dulu kilas balik tentang sejarah penelitian ekologi perairan tawar di Indonesia secara umum. Pengumpulan informasi tentang ekologi perairan umum Indonesia khususnya perairan danau mulai dilakukan sejak tahun 1928-1929 melalui suatu kegiatan ekpedisi yang diberi nama “The Sunda expedition”. Dalam expedisi oleh para ahli Jerman ini, dilakukan studi tentang ekologi air tawar khususnya danau dan waduk di tiga pulau utama Indonesia yaitu Sumatera, Jawa dan Bali. Setelah expedisi ini masih ada beberapa studi sporadis yang dilakukan antara tahun 1970 dan 1990 termasuk salah satu yang terbesar adalah “Expedition Indodanau” yang mencakup danau-danau dan waduk-waduk utama di Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Flores, Sulawesi dan Irian Jaya (Lehmusluoto dkk, 1999). Sayangnya ekologi perairan umum di pulau Kalimantan tidak termasuk dalam kedua ekspedisi besar ini.

Di Kalimantan, informasi tentang perairan umum masih sangat terbatas. Beberapa studi yang agak komprehensif tentang potensi perairan umum di pulau terbesar Indonesia ini kebanyakan berupa inventarisasi keanekaragaman species khususnya species ikan air tawar (Robert, 1989; dan Kottelat dkk, 1996). Sedangkan informasi tentang ekologi perairan umum hanya dibahas sekilas sebagai bagian dari ekologi umum pulau Kalimantan (MacKinnon dkk, 1996). Namun demikian, khusus untuk Kalimantan Tengah, penelitian tentang ekologi perairan umum sudah berlangsung secara intensif sejak tahun 1997 melalui proyek kerjasama penelitian yang disebut “JSPS Core University Program” yang melibatkan antara lain LIPI, Universitas Palangka Raya dan Universitas Hokkaido-Jepang. Di bawah kerjasama internasional ini, informasi tentang ekologi perairan umum Kalimantan Tengah sudah dipublikasikan di berbagai laporan dan jurnal ilmiah baik nasional maupun internasional (Gumiri et al, 2000; Komatsu et al, 2000, Kusakabe et al, 2000, Sulastri and Hartoto, 2000, Iwakuma dan Gumiri, 2003; Gumiri dan Iwakuma, 2003, Ardianor dan Veronica, 2003).

Penelitian yang terpublikasi tersebut di atas masih dianggap masih kurang mengingat data-data dasar yang bersifat time series atau tahunan masih belum secara intensif dilakukan sampai dengan tahun 2001. Mengingat urgensi data-data dasar tersebut sejak tahun 2002 dikembangkanlah Laboratorium Limnologi di lingkungan Universitas Palangkaraya dengan dukungan kejasama JSPS Core University Program. Keberadaan laboratorium yang mapan di lokasi yang tepat adalah suatu dasar dan ini sangatlah penting untuk mendukung pengembangan perairan tawar di Kalimantan Tengah. Tanpa laboratorium yang kuat tidak mungkin kita dapat bekerja dengan baik dan mendapatkan data-data akurat dan terkini untuk mendukung kebijakan pengelolaan perairan umum di Kal-Teng. Sebagai keluarannya, sampai dengan tahun 2004 ini kami sudah mengumpulkan data-data yang cukup penting seperti fluktuasi muka air sungai dan danau, suhu, pH, DO dan aspek biologi lainnya seperti plankton dan benthos yang bersifat tahunan (Wulandari et al., 2003, Ardianor et al., 2004, Gumiri and Iwakuma, 2004, Wulandari et al., 2004 dan Ishikawa et al., 2004). Namun demikian data tersebut masih terbatas pada DAS Kahayan mengingat kendala klasik yaitu keterbatasan dana dan waktu untuk melakukan kegiatan yang sama di DAS lainnya di Kal-Teng. Juga, keterbatasan data berkaitan dengan tipe perairan lainnya, seperti rawa dan estuarin (muara sungai) yang sifatnya longterm monitoring. Walaupun demikian disini sekilas akan kami tampilkan informasi mengenai kualitas fisika, kimia dan biologi di beberapa perairan wilayah Kal-Teng yang sifatnya temporer seperti studi-studi awal atau analisis Amdal yang kami ikut terlibat di dalamnya dan diyakini datanya cukup layak untuk dipresentasikan.

TIPE PERAIRAN UMUM TAWAR KAL-TENG

Dalam ilmu limnologi dikenal adanya dua macam perairan umum yaitu perairan yang mengalir (lotic water) dan perairan yang tergenang (lentic water). Contoh perairan yang mengaliri adalah sungai atau kali, kanal dan selokan; sedangkan perairan tergenang yaitu danau, rawa, situ, telaga, embung dan waduk.

Di Kalimantan Tengah selain 10 buah sungai besar yang mengalir langsung ke Laut Jawa dan cabang-cabang sungai, dijumpai banyak danau dan rawa yang umumnya berasosiasi dengan sungai-sungai tersebut. Sungai-sungai di Kalimantan Tengah dapat digolongkan ke dalam tipe Sungai Permanen yaitu sungai yang airnya terisi dan mengalir sepanjang tahun. Walaupun terjadi musim kemarau yang panjang sungai-sungai di Kalimantan Tengah tidak pernah kekeringan sampai tidak ada airnya. Sepuluh sungai besar tersebut mengalir sejajar dari Utara bersumber dari gugusan Pegunungan Schwaner dan Muller ke Selatan yaitu Sungai Barito, Sungai Kapuas, Sungai Kahayan, Sungai Sebangau, Sungai Katingan, Sungai Mentaya, Sungai Seruyan, Sungai Kumai, Sungai Lamandau dan Sungai Jelai. Sungai Barito adalah sungai terbesar (lebar mencapai 250 m dan panjang sekitar 900 km, Hortle (1995)) dan terpanjang dapat dilayari sampai dengan 600 km, sedangkan Sungai Sebangau adalah sungai terkecil dan terpendek bisa dilayari kurang lebih 200 km.

Danau-danau di wilayah ini dapat digolongkan kedalam 3 tipe danau yang umumnya terjadi akibat dinamika hidrologi air sungai utama. Danau Sembuluh adalah salah satu danau terbesar terletak di DAS Seruyan, diprakirakan terjadi akibat pen-Dam-an alamiah pad Sungai Rungau, cabang Sungai Seruyan. Umumnya danau-danau di DAS Seruyan yang cukup besar setelah Danau Sembuluh, seperti Danau Papudak dan Danau Seluluk memiliki proses kejadian yang sama. Tipe danau kedua adalah danau oxbow (oxbow lake) termasu danau sungai (fluviatile/river lake) yaitu bagian dari tipe limpasan dataran sungai (floodplain) yang mana terjadinya suatu pengisolasian putaran dari lekukan-lekukan sungai (meander) atau sungai tua (mature stream). Danau ini sering cukup dalam karena menempati segmen dari sungai (Cole 1983; Joo and Ward 1990). Tipe danau ketiga adalah backwater- lake yaitu danau yang terjadi akibat terisinya cekungan dibelakang sungai oleh air sungai utama. Danau ini juga termasuk danau limpasan banjir (flood-plain). Danau oxbow dan danau backwater di Kalimantan Tengah cukup banyak, sejauh ini belum terekam secara pasti, walaupun diperkirakan jumlahnya mungkin diatas 500 buah terlihat pada peta satelit, tersebar di sepanjang sungai-sungai besar.

Perairan dikatakan bertipe rawa apabila perairan tersebut dangkal bertepian landai dan penuh tumbuhan airnya. Menurut Nirarita dkk. (1996) rawa merupakan istilah yang bermakna luas yaitu sebutan untuk semua daerah yang tergenang air baik secara musiman atau permanen serta ditumbuhi vegetasi. Secara spesifik rawa di Kal-Teng dibedakan menjadi tiga bergantung kepada ekosistem teresterial yang mengelilinginya yaitu (1) perairan rawa gambut adalah perairan dangkal yang terletak di daerah hutan rawa gambut mempunyai pH dan kandungan oksigen yang rendah; (2) perairan rawa alluvial adalah perairan dangkal pada tanah alluvial dataran rendah yang terletak diantara dua sungai jauh masuk ke pedalaman atau dataran dekat pantai yang luas yang digenangi air secara permanen atau musiman, baik air hujan maupun limpasan air sungai (Nirarita dkk. 1996). Kandungan oksigen dan pH biasanya lebih tinggi dari perairan rawa gambut dan (3) perairan rawa tanpa hutan atau myre adalah perairan rawa yang didominasi oleh gabungan tanaman teresterial dan makrofita akuatik, mempunyai badan air yang relatif terbuka (MacKinnon dkk., 2000) . Di Jepang penelitian mengenai jenis rawa (myre) ini sudah begitu mendalam seperti dilaporkan oleh Iwakuma (1996). Istilah yang digunakan oleh masyarakat dayak untuk rawa ini adalah Luwau Napu atau di Sumatera disebut Lebak Lebung. Perairan rawa ini di Kal-Teng cukup luas namun sejauh ini belum terinventarisasi dengan baik. Contoh rawa di wilayah ini seperti rawa Bengaris dan Kalampangan (dekat Palangkaraya), rawa Kamipang (di DAS Katingan) dan rawa di sepanjang DAS Sebangau Besar dan Kecil.

HIDROLOGI DAN KUALITAS FISIKA-KIMIA AIR

Sungai

Sumber air di sungai-sungai berasal dari sumber air bawah tanah yang muncul kepermukaan dan berasal dari air hujan melalui siklus hidrologi. Air tanah yang mengairi sungaisungai kecil (stream) di bagian hulu dan pegunungan bergabung menjadi sungai besar yang ciri khas berupa adanya gesekan keras yang terus menerus antara air dengan batu-batu besar. Begitu mencapai dataran rendah di bagian tengah, sungai-sungai di Kalimantan Tengah cenderung berkelok-kelok membentuk “meander” dengan warna air cenderung keruh sepanjang waktu.

Kecepatan arus (aliran) sungai-sungai kecil anak Sungai Katingan seperti Sungai Samba dan Sungai Hiran beserta cabang-cabangnya cukup bervariasi 0,5 – 0,8 m/detik, dan debit air berkisar antara 3 – 100 m3/det pada saat musim kemarau (PPLH-UNPAR, 2002a), sedangkan pada Sungai Kahayan debit air berkisar antara 164 – 1.981 m3/detik, maksimum bisa mencapai 2.203 m3/detik dan minimum 62 m3/detik (Dinas Pertambangan, 1997). Elita dan Kembarawati (2000) melaporkan bahwa kecepatan arus di Sungai Mentaya berkisar antara 0,26 – 0,48 m/detik. Pada Sungai Jango dan Sungai Panaan yang merupakan anak Sungai Tabalong Kiwa di Wilayah Barito Timur mempunyai kecepatan arus berkisar 0,1 – 0,96 m/detik dengan debit 0,05 – 33 m3/detik (PPLH-UNPAR, 2002b). Kecerahan air di Sungai Samba berkisar antara 35 – 50 cm, semetara di Sungai Hiran berkisar antara 15 – 68 cm (PPLH-UNPAR, 2002a). Di Sungai Kahayan kecerahan berkisar 12 – 29 cm (Dinas Pertambangan, 1997), sedangkan di Sungai Seruyan (Elita dan Kembarawati, 2000) dan kelompok Sungai Tabalong Kiwa (PPLH-UNPAR, 2002b) masing-masing berkisar antara 25 – 40 cm dan 58 – 80 cm. Gambaran suhu, pH, oksigen terlarut dan karbondioksida bebas dibeberapa sungai di Kalimantan Tengah hampir tidak berbeda jauh seperti disajikan dalam Tabel 1. Tabel 1. Gambaran suhu, pH, oksigen terlarut di beberapa sungai besar di Kal-Teng Sungai dan Kelompok sungai Suhu (oC) pH O2 (mg/ l) Sumber Sungai Samba 25 – 26 5,0 – 7,0 7,4 – 8,1 PPLH-UNPAR (2002a ) Sungai Hiran 24 – 26 6,5 – 7,3 7,9 – 8,3 PPLH-UNPAR (2002a) Sungai Seruyan 25 – 30 4,5 – 5,8 1,3 – 2,9 Elita dan Kembarawati (2000) Sungai Kahayan 26 – 30 5,6 – 6,6 4,9 – 8,5 Dinas Pertambangan (1997) Sungai Jango, Panaan dan Tabalong Kiwa 25,0 – 25,5 6,6 – 7,4 6,5 – 8,2 PPLH-UNPAR (2002b).

Kurasaki et al. (2000) melaporkan kondisi fisika kimia air di Sungai Kapuas Murung, Sungai Kapuas, Sungai Kahayan dan Sungai Sebangau (hasil tidak digambarkan dengan kisaran tetapi rata-rata pengukuran). Suhu air di Sungai Kapuas Murung dan Sungai Kapuas adalah 31,3 oC dan 29,6 oC, sementara pH adalah 4,8 dam 4,2. Di Sungai Kahayan dan Sungai Sebangau suhu secara berurutan 30,4 oC dan 30,3 oC, sedangkan pH adalah 6,6 dan 3,9.

Danau

Secara hidrologis sumber atau suplai air danau-danau oxbow dan limpasan banjir lainnya adalah umumnya berasal dari sungai utama. Memang ada sebagian danau yang sumber airnya berasal dari dalam tanah. Sehingga danau-danau tersebut ekologinya sangat dipengaruhi oleh tingkat konektivitas atau keterbukaannya dengan sungai. Ukuran penyabaran danau-danau tersebut juga sangat mempengaruhi ekosistemnya. Kedalaman danau-danau tersebut bervariasi antara 3 – 14 m. Fluktuasi muka air danau di DAS Kahayan antara musim kemarau dan musim penghujan bisa mencapai 6 m (Wulandari et al., 2003).

Sifat fisika kimia air di danau khususnya suhu, pH dan oksigen terlarut cukup bervariasi. Danau-danau di wilayah Sungai Seruyan suhu air berkisar antara 28 – 33 oC, sedangkan pH dan DO masing-masing berkisar antara 4,2 – 6,1 (rata-rata 5,2) dan 2,4 – 7,1 mg/l (rata-rata 5,3 mg/l) (Ardianor et al., 2003). Di danau-danau pada DAS Kahayan, gambaran suhu, pH dan oksigen juga bervariasi menurut tempat dan waktu. Mengingat cukup banyaknya danau yang telah diperoleh data dasar di DAS Kahayan maka dalam makalah ini hanya tiga buah danau yang akan diinformasi berdasarkan tingkat konektivitasnya dengan Sungai Kahayan. Danau Batu adalah salah satu danau backwater yang sangat terisolir dari Sungai Kahayan. Suhu pada danau ini berkisar antara 27 – 33oC; sedangkan pH dan DO masing berkisar antara 3,82 – 6,84 dan 0,7 – 5,5 mg/l. Danau Hurung adalah danau oxbow yang semi tertutup terhadap Sungai Kahayan. Gambaran suhu, pH dan DO pada danau cukup bervariasi dengan kisaran masing-masing secara berurutan: 25 – 34,5oC, 2,46 – 6,65 dan 0,5 – 5,29 mg/l. Danau Tehang, juga merupakan danau oxbow yang mempunyai tingkat keterbukaan paling besar dengan Sungai Kahayan. Danau ini terbuka pada bagian hulu dan hilirnya. Gambaran suhu, pH dan DO secara berurutan berkisar antara 28 – 35,1oC, 3,47 – 6,05 dan 2,30 – 8,64 mg/l (Wulandari et al., 2003).

Rawa

Sesuai dengan tipe-tipe rawa, rawa gambut umumnya tersebar di bagian hilir (downstream area) DAS Barito, Kahayan, Sebangau, Katingan dan Mentaya. Suplai air rawa gambut utamanya berasal dari sungai utama, sebagian rawa berasal dari cabang anak sungai utama. Rawa tanah alluvial, dalam hal ini belum teridentifikasi dan tidak ada data. Selanjutnya untuk rawa tanpa hutan atau luwau napu juga tersebar di DAS Barito, Kahayan, Sebangau, Katingan dan Mentaya. Sumber air berasal dari sungai utama dan anak-anak sungai dimana rawa tersebut berada. Luwau Napu yang berada di sekitar lahan gambut airnya akan terlihat coklat tua (humic substance), sedangkan yang berada pada tanah alluvial dan mineral air cenderung bening. Permukaan air di perairan rawa sangat berfluktuasi dari yang paling dalam mencapai 2 meter di musim penghujan sampai dengan tidak berair di musim kemarau. Rawa yang terbentuk akibat sungai atau anak sungai yang mengalir melewati dataran/ daerah limpasan banjir yang luas, biasanya pada musim kemarau air hanya berada pada basin sungai, sedangkan daerah limpasan banjir menjadi lahan basah seperti rawa S. Kamipang dan rawa S. Bulan, DAS Katingan.

Di Kalimantan Tengah sedikit sekali penelitian mengenai rawa walaupun luasan rawa diklaim sangat besar. Yantrinata et al. (2003) melakuan studi di Rawa Bengaris dan Rawa Kalampang di wilayah Kotamadya Palangkaraya dengan kedalaman rata-rata 0,8 m. Gambaran parameter fisika kimia perairan seperti kecerahan, suhu, pH dan oksigen terlarut secara berurutan berkisar antara 65 – 68 cm, 39 – 39, 6oC, 3,7 – 4,5 dan 0,4 – 2,5 mg/l. Di rawa S. Kamipang suhu, pH dan DO secara berurutan berkisar antara 26 – 28oC, 3,5 – 4,6

dan 2,4 – 3,7 mg/l; sedang kan di rawa S. Sebangau Kecil suhu, pH dan DO secara berurutan berkisar antara 25,9 – 27,3oC, 3,80 – 4,05 dan 2,6 – 5,0 mg/l (Data observasi Juni 2004).

BIOTA PERAIRAN

Fitoplankton

Kelimpahan fitoplankton di Danau Sabuah (DAS Kahayan) sebesar 1.968 ind./l (Torang, 1995); 2.358 ind./l (Buchar 1998); dan Ardianor (1999) berkisar 54 – 80 ind./l (mikroplankton >45 mm,); serta Kusakabe et al. (2000) 183 – 684 ind/ml (phycoplankton dan nannoplankton < 20 m , dominan adalah Chlamydomonas sp., Cryptomonas sp., dan Trachelomonas sp.). Fitoplankton di Danau Takapan (DAS Rungan) sangat melimpah yaitu 3.337 ind./l didominasi oleh Bacillariophyceae dan Chlorophyceae, khususnya Navicula, Synedra, Tabellaria, Cloterium dan Spirogyra (Sulastri and Hartoto, 2000). Danau-danau di

DAS Seruyan kelimpahan fitoplankton dan konsentrasi chlorofil-a disajikan dalam Tabel 2. Table 2. Kelimpahan fitoplankton dan konsentrasi chlorofil-a pada danau-danau di DAS Seruyan (Ardianor et al. 2003).

Di Danau Tehang, Hurung dan Batu secara keseluruhan teridentifikasi 65 genera fitoplankton (> 20 um) yang didominasi oleh famili Euglenidae, Phacus dan Trachelomonas (heterotrophyc-flagellates) dengan kelimpahan rata-rata 948, 395 dan 113 ind/l. Biomassa fitoplankton di ketiga juga cukup tinggi secara berurutan 30293, 17301 and 8096 mgC×m-3. Namun demikian kandungan chlorofil-a masih rendah yang masing-masing secara berurutan untuk Danau Tehang, Hurung dan Batu adalah 4.6, 4.9 and 3.2 ug/l. Hal tersebut karena fitoplankton dominan di danau-danau tersebut adalah heterotropik-flagelata, dimana kandungan chlorofil-a dalam selnya rendah (Ardianor et al., 2004).

Zooplankton

Berbeda dengan fitoplankton informasi mengenai zooplankton secara spasial di perairan Kal-Teng masih sedikit. Gambaran komunitas zooplankton dibeberapa sungai di Kalimantan Tengah cukup bervariasi. Di bagian hulu Sungai Katingan teridentifikasi 17 jenis Danau Chl-a (ug/l) Fitoplankton (inds./l) Lake Sembuluh 7.9 267 Lake Bakung 2.9 362 Lake Jahitan 11.8 2606 Lake Papudak 1.1 83 Lake Bahaya 7.5 54 Lake Seluluk 12.9 1198 yang terdiri dari klas Rortifera, Nematoda dan Copepoda, dengan kelimpahan rata-rata 7 ind/l; sedangkan dihulu Sungai Lamandau lebih besar yaitu rata-rata 15 ind/l (PPLHUNPAR, 2002a). Pada Sungai Teweh (DAS Barito) teridentifikasi 20 genus dengan kelimpahan rata-rata 52 ind/l yang didominasi oleh Rotifera (PPLH-UNPAR, 2004a). Pada Sungai Rungau (DAS Seruyan) teridentifikasi 13 genus zooplankton dengan rata-rata kelimpahan 25 ind/l, didominasi oleh Rotifera dan Copepoda (PPLH-UNPAR, 2004b).

Kelimpahan zooplankton di Danau Sabuah yaitu 6,5 ind./l, yang meliputi Rotifera, Cladocera, dan Copepoda (naupli, copepodit dan dewasa) (Gumiri, et al., 2000). Sedangkan menurut Ardianor et al. (2000) kelimpahan zooplankton di Danau Sabuah adalah 13 ind/l. Di Danau Tundai Zooplankton cukup melimpah mencapai 25 ind/l didominasi oleh kelompok rotifera (Gumiri et al., 2000). Menurut Yantrinata et al. (2003) kelimpahan zooplankton di D. Bunter dan D. Tahai berbeda dimana di D. Bunter didominasi oleh kelompok rotifera dan cladocera sedangkan di D. Tahai didominasi kelompok copepoda. Pada danau-danau di DAS Seruyan zooplankto teridentifikasi sebanyak 20 jenis, terdiri tas atas Rotifera, Cladocera, Copepoda, Nematoda dan Rhizopoda, dengan kelimpahan berkisar antara 3 – 146 ind./l. Species dominan adalah Polyarthra vulgaris dengan kelimpahan tertinggi di Danau Seluluk (Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Tengah, 2003).

Benthos

Sama halnya dengan zooplankton, informasi mengenai zoobenthos juga sangat terbatas secara spasial. Jumlah jenis organisme benthos yang terdapat hulu Sungai Katingan dan Senamang cukup banyak yaitu 16 genera, dengan kelimpahan berkisar 222 – 711 ind./m2; sedangkan di hulu Sungai Lamandau ditemukan 7 jenis dengan kelimpahan berkisar 178 – 311 ind./m2 (PPLH-UNPAR, 2002a). Di Sungai Teweh (DAS Barito) teridentifikasi 14 jenis organisme benthos dengan kelimpahan berkisar 222 – 355 ind./m2, dengan rata-rata 297 ind./ m2 (PPLH-UNPAR, 2004a). Di Sungai Rungau teridentifikasi 10 genus makrozoobenthos dengan rata-rata kelimpahan 40 ind/m2, didominasi oleh famili Anellida dan Insecta (PPLHUNPAR, 2004b).

Makrozoobenthos di D. Hurung di dominasi oleh Chironomus dan Naidium dengan rata-rata kelimpahan 88 ind./m2. Di D. Bunter ditemukan 7 famili yaitu Aelosomatidae, Naididae, Tubificidae, Corbiculidae, Spaeriidae dan Ceratopogonidae dengan masing-masing jenis berkisar antara 44 – 1022 ind./m2. Di Danau Tehang dominan spesies makrozoobenthos adalah Branchiura (Tubificidae), Naidium (Naididae) Curbicula (Molusca) dan ordo Tricoptera (Insecta) (Wulandari et al., 2003).

Tumbuhan Air

Informasi mengenai tumbuhan air di perairan Kal-Teng sangat terbatas. Inventarisasi yang dilakukan oleh tim peneliti Limnologi-Unpar masih disekitar danau. Keterbatasan data karena belum ada peneliti yang secara khusus mendalami tumbuhan. Namun demikian beberapa spesies yang teridentifikasi di Danau Tundai adalah eceng gondok (Eichornia crassipes), eceng kebo (Monchoria hastata), kiambang (Salvinia natans), rumput ekor kucing (Utricularia aurea), kakarewaan (Azolla pinata), kumpai air (Eichnochloa stagnina), gerigit (Leersia hexandra), walingi (Cyperus elatus), kumpai lengo (Polygonum sp.) dan rasau (Pandanus minor). Sedangkan di Danau Batu, Bunter dan Tehang hanya dijumpai satu jenis tumbuhan air yaitu pandan berduri (Pandanus sp.), ini lebih sebagai semi-tumbuhan air (Personal komunikasi : Linda Wulandari, Juli 2004). Pada danau-danau di DAS Seruyan juga teridentifikasi beberapa tumbuhan air yang dominan seperti disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Tumbuhan air dominan di danau-danau di DAS Seruyan (CBF, 2003).

Ikan

Di perairan hulu Sungai Lamandau teridentifikasi 10 species yaitu Puhing

(Cyclocheilichthys apogon), Saluang Bulu (Rasbora argyrotaenia), Salap (Barbodes shwanenfeldii), Manangin (Osteohilus vitatus), Johar (Luciosoma trinema), Lais Junggang (Kryptopterus apogon), Lele (Clarias batrachus), Sanggaringan (Mystus nigriceps), banta (Pancax pancax) dan benduk (Puntius javanicus). Sedangkan di hulu Sungai Katingan dan Seruyan teridentifikasi 34 species (PPLH-UNPAR, 2002a). Pada Sungai Teweh menurut (PPLH-UNPAR, 2004a) teridentifikasi 51 species yang didominasi oleh Cyclocheilichthys sp., Osteochilus sp., Chana sp., dan Mystus sp. Beberapa jenis ikan ekonomis penting yang mulai langka seperti jelawat (Leptobarbus sp.) dan patin sungai (Pangasius sp.) masih ditemukan. Buchar (1998) menggambarkan bahwa jumlah jenis ikan di Danau Sabuah cukup besar yaitu ada 48 jenis, dengan kelimpahan terbesar pada jenis ikan Cyclocheilichthys sp., Osteochilus sp., Helostoma sp., Trichogaster sp., Rasbora sp., dan Macrones sp. Berdasarkan kebiasaan makanannya, ikan di Danau Sabuah terbagi atas tiga golongan yaitu sebanyak 21 jenis (45,8%) karnivora, 18 jenis (35,4%) herbivora, dan 9 jenis (18,7%) omnivora. Dari Doi (2001) bahwa jenis ikan di Danau Takapan cukup banyak yaitu ditemukan 55 jenis yang didominasi oleh beberapa species seperti Osteochilus sp., Cyclocheilichtis sp., Rasbora sp., Cryptopterus sp., dan Thynnichthys sp. Selanjutnya Torang and Buchar (2000) melaporkan bahwa keragaman ikan di Danau Tundai cukup besar yang didominasi oleh famili Cyprinidae dan Siluridae (Cryptopterus sp. dan Mystus sp.). Sedangkan Komatsu et al. (2000) melaporkan bahwa ikan di Danau Tundai juga cukup beragam yang didominasi oleh sepat (Trichopterus sp.), puyau-puyaan (Osteochilus sp.), puhing (Cyclocheilichtis apogon) dan baung (Mystus sp.). Titik Pengamatan Jenis Tumbuhan Air Dominan D-Sembuluh (Muara Sebani ) Eceng (Eichornia sp) dan kiapu (Pistia stratiotes) D-Bakung Eceng gondok (Eichornia crassipes), genjer (Limnocharis flava), Bakung air (Hansuana malayana), Kiapu (Pistia stratiotes) Kangkung (Ipomoea aquatica) dan Kumpai air (Eichnochloa stagnina) D-Jahitan Eceng gondok (Eichornia crassipes), Kiapu (Pistia stratiotes) Kiapu (Pistia stratiotes) D Papudak Eceng gondok (Eichornia crassipes), Kiapu (Pistia stratiotes) Kumpai air (Polygonum pulchrum) D-Bahaya Eceng gondok (Eichornia crassipes), Kiapu (Pistia stratiotes) Kangkung (Ipomoea aquatica), Lucut Cai (Hydrilla verticillata) D-Seluluk Eceng gondok (Eichornia crassipes), Kiapu (Pistia stratiotes) Bakung air (Hansuana malayana)

SUPLAI ENERGI

Berkaitan dengan sumber energi di perairan tawar kita mengenai istilah “autocthonous” dan “allouctonous”. Autochtonous adalah suplai energi dari dalam ekosistem perairan itu sendiri, misal proses fotosistesis alga dan tumbuhan air tingkat tinggi dengan menyerap energi matahari mamanfaatkan bahan anorganik yang ada di perairan. Sedangkan allouctonous adalah sumber energi berasal dari luar ekosistem perairan berupa bahan organik dan anorganik yang masuk keparairan dari daratan dan udara. Dalam hal ini informasi mengenai energi disajikan hanya pada perairan tenang, khususnya danau. Di danau-danau oxbow dan backwater suplai energi ke dalam ekosistem danau lebih besar berasal dari allouctonous yakni dari hutan yang mengelilingi danau dibandingkan dengan yang berasal dari produksi primer. Ishikawa et al. (2004) mejelaskan bahwa produksi primer di Danau Sabuah hanya 172 mgC⋅cm-2⋅hari-1, sedangkan jatuhan bahan organik yang berasal dari hutan mengeliling dan menaungi danau berkisar antara 0,1 – 4 g berat kering⋅m-2⋅hari-1. Rasio produksi allouctonous terhadap autocthonous dalam hal ini sekitar 23,25, walaupun jatuhan (litter fall) tersebut melalui berbagai untuk menyediakan bahan anorganik. Hal ini sejalan dengan Ardianor et al. (2004), fitoplankton yang dominan di Danau Batu adalah klas Euglenidae atau kelompok heterotrofik-flagelata. Euglenidae sedikit mengandung chlorofil-a dan kemungkinan sumber energinya berasal dari bahan organik tersuspensi dan bakteri.

Disamping itu hutan disekeliling danau dan sungai merupakan tempat yang baik untuk kehidupan serangga (insekta) dan berkaitan juga dengan daur hidup insekta yang setengahnya di air. Serangga yang jatuh dari pepohonan juga merupakan sumber energi secara langsung bagi ikan-ikan. Yulintine (2001) melakukan penelitian dengan memasang perangkap serangga dipermukaan air Danau Tundai, memperlihatkan bahwa biomassa insekta tertangkap cukup besar yang didominasi secara berurutan oleh Diptera, Hymenoptera, Trichoptera, Coleoptera, Hemiptera dan Lepidoptera.

DAFTAR PUSTAKA

Ardianor and E. Veronica 2003. Phytoplankton communities in a group of oxbow lakes around Sigi Village, Central Kalimantan. Proceeding of International Symposium on Land Management and Biodiversity in Southeast Asia, Bali September 2002.

Ardianor, 1999. Pengaruh Pemindahan Massa Air Dasar ke Lapisan Permukaan dan Pemberian Kapur Terhadap Produktivitas Primer dan Kelimpahan Fitoplankton di Danau Sabuah. Tesis tidak dipublikasi. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor, Indonesia.

Ardianor, E.M. Adiwilaga, H. Effendi and F. Widjaja, 2000. Effects of Artificial Mixing of Surface and Bottom Waters and Lime Treatment on the Abundance and Primary Productivity of Phytoplankton in Lake Sabuah. In T. Iwakuma et al. (ed). Proceedings of the International Symposium on: Tropical Peat lands, Bogor, Indonesia, 22 – 23 November 1999. Graduate School of Environmental Earth Science, Hokkaido Univ., Sapporo, Japan. Journal of Tropical Fisheries (2006) 1(2): 98 — 110

Ardianor dan Sulmin Gumiri : Tinjauan Limnologi … Jurusan Perikanan, 107 Faperta-UNPAR

Ardianor, T. Handayani and Aunurafik 2003. A preliminary study on phytoplankton in several Lakes of Seruyan River System. Paper Presented on Informal Meeting of JSPSLIPI Core University Program, June 2003.

Ardianor, Trisliana and T. Iwakuma 2004. Species composition of net phytoplankton of oxbowand backwater flood plain lakes in fresh water swamp ecosystem of Central Kalimantan. Paper presented on weekly Limnological Laboratory-UNPAR seminar.

Buchar, T. 1998. Bioekologi Komunitas Ikan di Danau Sabuah. Tesis. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor, Indonesia. 108 halaman.

Cole, G. A. 1983. Text Book of Limnology. Third Edition. Waveland Press, INC. USA. Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Tengah, 2003. Kajian Perikanan Berbasis Budidaya : Identifikasi dan Estimasi Daya Dukung Lingkungan, di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Dinas Pertambangan, 1997. Identifikasi Dampak Lingkungan Penambangan Emas Tanpa Ijin (PETI) Pada Das Kahayan. Kejasama Dinas Pertambangan dengan Pusat Penelitian Hidup (PPLH)-UNPAR.

Doi, A. 2001. Limnological Data for Lake Takapan and Tabiri in June 2000 with a List of Fishes Collected. Annual Report April 2000 – March 2001 on Environmental Conservation and Land Use Management of Wetland Ecosystem in Southeast Asia, School of Environmental Earth Science, Hokkaido Univeristy.

Elita dan Kembarawati, 2000. Analisa Kualitas Fisika dan Kimia Air di Sungai Mentaya Kabupaten Kotawaringin Timur. Jurnal Central Kalimantan Fisheries 1: 6 – 12. Goldman, C.R. and A. J. Horne, 1983. Limnology. McGraw-Hill. New York. USA.

Gumiri, S. & T. Iwakuma 2003: The dynamics of rotiferan communities in relation to environmental factors: Comparison between two tropical oxbow lakes with different hydrological condition. – Verh. Internat. Verein. Limnol. 28: 1885-1889

Gumiri, S. and T. Iwakuma 2004. Seasonal dynamics of zooplankton communities in interconnected tropical swamp lake ecosystems. Paper presented on weekly Limnological Laboratory-UNPAR seminar.

Gumiri, S., A. Hafid, T. Iwakuma, R. Komatsu and K. Kusakabe, 2000. A Preliminary Study on the Dynamics of Zooplankton Community in Two Humic Lakes of Central Kalimantan. In T. Iwakuma et al. (ed). Proceedings of the International Symposium on: Tropical Peat lands, Bogor, Indonesia, 22 – 23 November 1999. Graduate School of Environmental Earth Science, Hokkaido Univ., Sapporo, Japan.

Hortle, K. 1995. A Survey of the Barito River Fishery Near Mount Muro, Central Kalimantan Indonesia. In K.H. Timotius and F. Goltenboth (eds.), Tropical Limnology, Vol. III, Satya Wacana Christian University, Salatiga, Indonesia. Journal of Tropical Fisheries (2006) 1(2): 98 — 110 Ardianor dan Sulmin Gumiri : Tinjauan Limnologi … Jurusan Perikanan, Faperta-UNPAR 108

Ishikawa, T., Yurenfri, Ardianor and T. Iwakuma 2004. Estimastion of primary production and litter fall flux in Lake Batu, Sigi Village, Central Kalimantan. Paper presented on weekly Limnological Laboratory-UNPAR seminar.

Iwakuma, T. 1996. Mires of Japan : Ecosystems and Monitoring of Miyatoko, Okayachi and Kushiro Mires. Nasional Institute for Environmental Studies.

Joo G. J. and Amelia K. Ward, 1990. Morphometric Characterization of Oxbow Lakes Along the Black Warrior River, Southern United Stated. Verh. Internat. Verein. Limnol. 24: 524 – 531.

Komatsu, R., S. Gumiri, D.I. Hartoto, and T. Iwakuma. 2000. Diel and Seaseonal Feeding Activities of Fishes in an Oxbow lake of Central Kalimantan. p. 455 – 467. In T. Iwakuma (ed). Proceedings of the International Symposium on: Tropical Peat Lands, Bogor, Indonesia, 22 – 23 November 1999. Graduate School of Invironmental Earth Science, Hokkaido Univ., Sapporo, Japan.

Kottelat, M., J.A. Whitten., S.N. Kartikasari dan Wiryoatmodjo. 1993. Ikan Air Tawar Indonesia Bagian Barat dan Sulawesi. Edisi Dwibahasa Inggris-Indonesia. Periplus Edition, Indonesia. 293 p. Kurasaki, M., D.I. Hartoto, T. Saito, M. Suzuki-Kurasaki and T. Iwakuma. 2000. Surface Water Quality in Central Kalimantan, Indonesia. In T. Iwakuma et al. (ed). Proceedings of the International Symposium on: Tropical Peat lands, Bogor, Indonesia, 22 – 23 November 1999. Graduate School of Environmental Earth Science, Hokkaido Univ., Sapporo, Japan.

Kusakabe, K., T. Iwakuma and Sulastri, 2000. Seaseonal Changes of Phytoplankton Species in Relation to Environmental Factors in an Oxbow Lake of Central Kalimantan, Indonesia. In T. Iwakuma et al. (ed). Proceedings of the International Symposium on: Tropical Peat lands, Bogor, Indonesia, 22 – 23 November 1999. Graduate School of Environmental Earth Science, Hokkaido Univ., Sapporo, Japan. Lehmusluoto, P., Machbub, B., Terangna, N., Achmad, F., Boer, L., Brahmana, S.S.,

Setiadji, B., Priadie, B. Timotius, K.H. & Goeltenboth, F. (1999): Limnology in Indonesia: From the Legacy of the Past to the Prospects for the Future. Dalam: Wetzel, R.G. & Gopal, B. (ed.) Limnology in Developing Countries Vol 2. International Association for Limnology. Hal 119-234

MacKinnon, K, G. Hatta, H. Halim dan A. Mangalik 2000. Ekologi Kalimantan. Prehalindo, Jakarta, Indonesia. Nirarita, CH. P. Wibowo, S. Susanti, D. Padmawinata, Kusmarini, M. Syarif, Y. Hendriani,

Kusnianingsih, L. Sinulingga. 1996. Ekosistem Lahan Basah Indonesia : Buku Panduan untuk Guru dan Praktisi Pendidikan. Wetland Intetnational Indonesia Programme, Bogor, Indonesia.

PPLH-UNPAR, 2002a. Laporan Utama Analsis Dampak Lingkungan (ANDAL) PT.Sari Journal of Tropical Fisheries (2006) 1(2): 98 — 110 Ardianor dan Sulmin Gumiri : Tinjauan Limnologi … Jurusan Perikanan, 109 Faperta-UNPAR Bumi Kusuma. Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, Universitas Palangka Raya, Palangkaraya, Indonesia.

PPLH-UNPAR, 2002b. Laporan Utama Analsis Dampak Lingkungan (ANDAL) PT. Karya Inti Sakti Bara. Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, Universitas Palangka Raya, Palangkaraya, Indonesia.

PPLH-UNPAR, 2004a. Laporan Utama Analsis Dampak Lingkungan (ANDAL) PT. IndeximUtama. Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, Universitas Palangka Raya,Palangkaraya, Indonesia.

PPLH-UNPAR, 2004b. Laporan Utama Analsis Dampak Lingkungan (ANDAL) PT. Sumber  Indah Perkasa. Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, Universitas Palangka Raya, Palangkaraya, Indonesia.

Roberts, T.R. (1989): The freshwater fishes of Western Borneo (Kalimantan Barat, Indonesia). – California Academy of Sciences, San Francisco.

Sulastri and D.I. Hartoto, 2000. Distribution of Phytoplankton in Some Oxbow Lakes of Central Kalimantan. In T. Iwakuma et al. (ed). Proceedings of the International Symposium on: Tropical Peat lands, Bogor, Indonesia, 22 – 23 November 1999. Graduate

School of Environmental Earth Science, Hokkaido Univ., Sapporo, Japan.

Suwignyo, P. 1982. Konsep Pengelolaan Perikanan di Waduk (Danau Buatan). Pros. No. 1/ SPPU.

Torang, I. 1995. Hubungan Antara Iluminasi dengan Kelimpahan dan Komposisi Jenis Fitoplankton. (Tesis). Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB). Bogor.

Torang, M. and T. Buchar 2000. Concept of sustainable development of local fish resource in Central Kalimantan. In T. Iwakuma et al. (ed). Proceedings of the International Symposium on: Tropical Peat lands, Bogor, Indonesia, 22 – 23 November 1999. Graduate School of Environmental Earth Science, Hokkaido Univ., Sapporo, Japan.

Wulandari, L. Yulintine and T. Iwakuma. 2003. Structural Community of Macrozoobenthos in Several Oxbow Lakes of Central Kalimantan.

Wulandari, L., Ardianor, T. Buchar, E. Veronica, Yulintine, S. Gumiri, T. Iwakuma, H. Yamato, Tri Septiani, Yantrinata, R. Hariwinata, Yurenfri, Trisliana and J. Indra. 2003. Limnological data for lakes in the vicinity of Sigi Village-Palangka Raya. Annual Report for April 2002 – March 2003 of Environmental Conservation and Land Use Management of Wetland Ecosystem in Southeast Asia.

Wulandari, L., Yulintine, Tri Septiani and T. Iwakuma 2004. Abundance and diversity of makrozoobenthos of lakes in the vicinity of Sigi Village, Central Kalimantan, Indonesia. Paper presented on weekly Limnological Laboratory-UNPAR seminar.

Yantrinata, S. Gumiri, K. Bungas and T. Iwakuma. 2003. Zooplankton Commnities in Various Freshwater Bodies Surround Palangkaraya City, Central Kalimantan-Indonesia. Journal of Tropical Fisheries (2006) 1(2): 98 — 110 Ardianor dan Sulmin Gumiri : Tinjauan Limnologi … Jurusan Perikanan, Faperta-UNPAR 110 Proceeding of International Symposium on Land Management and Biodiversity in Southeast Asia, Bali September 2002.

Yulintine, L. 2001. Seasonal changes of insect assemblages collected with surface water traps on the shore of an oxbow lake in Central Kalimantan, Indonesia with special reference to their length-frequency relationships. Annual Report for April 2000 – March 2001 of Environmental Conservation and Land Use Management of Wetland Ecosystem in Southeast Asia.

  1. Judul Artikel

Tinjauan limnologi perairan tawar Kalimantan Tengah

  1. Tujuan penulisan

Tujuan dari penulisan artikel ini untuk mengetahui kondisi limnologis ekosistem perairan tawar di Kalimantan Tengah sampai dengan tahun 2004.

  1. Fakta-fakta unik
  2. Pertanyaan yang muncul
  • Sungai-sungai di Kalimantan Tengah dapat digolongkan ke dalam tipe Sungai Permanen yaitu sungai yang airnya terisi dan mengalir sepanjang tahun.
  • Danau-danau di wilayah ini dapat digolongkan kedalam 3 tipe danau yang umumnya terjadi akibat dinamika hidrologi air sungai utama. Secara hidrologis sumber atau suplai air danau-danau oxbow dan limpasan banjir lainnya adalah umumnya berasal dari sungai utama.
  • Sumber air di sungai-sungai berasal dari sumber air bawah tanah yang muncul kepermukaan dan berasal dari air hujan melalui siklus hidrologi.
  • Kelimpahan fitoplankton cukup banyak
  • Berbeda dengan fitoplankton informasi mengenai zooplankton secara spasial di perairan Kal-Teng masih sedikit.
  • Sama halnya dengan zooplankton, informasi mengenai zoobenthos juga sangat terbatas secara spasial.
  • Informasi mengenai tumbuhan air di perairan Kal-Teng sangat terbatas.
  • Apakah kelimpahan fitoplankaton masih dpat terjaga?mengingat semakin banyak perairan tawar yang tercemar?
  • Bagaimanakah caranya menjaga keanekaragaman tersebut dan menjaga perairan tawar dari pencemaran yang kian banyak mencemari perairan tawar/
  • Bagaimana dengan tinjauan limnologi air tawar di daerah lain selain Kalteng?
  1. Konsep

Perairan pedalaman (inland water) diistilahkan bagi semua badan air yang berada di daratan. Ilmu yang mempelajari masalah perairan pedalaman atau perairan umum disebut Limnologi. Bentuk-bentuk perairan umum tawar alami yang telah dikenal luas ialah sungai (river atau stream), rawa (swamp) dan danau (lake). Selain alami perairan umum juga dapat dibentuk oleh manusia misalnya waduk (resevoir) dari sungai (waduk sunga) maupun dari rawa (waduk rawa) (Suwignyo, 1982). Air perairan pedalaman umumnya tawar meskipun ada beberapa badan air yang airnya asin; dimana air asin di daratan disebut athalassic saline water. Goldman and Horne (1983) menerangkan bahwa ilmu limnologi mencakup perairan tawar sampai dengan perairan estuaria (payau) di muara sungai.

Limnologi merupakan cabang ilmu ekologi yang secara khusus mempelajari perairan daratan. Sebelum mendiskusikan ekologi perairan tawar secara umum di Kalimantan Tengah, ada baiknya kalau kita melihat dulu kilas balik tentang sejarah penelitian ekologi.Perairan tawar di Indonesia secara  umum.

  1. Refleksi diri

Berdasarkan pengalaman penulis selama mengikuti perkuliahan limnologi dan KKL Lahor. Penulis dapat mengetahui lebih tentang perairan tawar dengan  mendapatkan teori-teori dan konsep di dalam kelas yang ditunjang dengan praktikum langsung ke lapangan. Oleh karena itu penulis jadi mengetahui apa itu perairan tawar dan limnologi. Dengan adanya teori dan praktikum di lapangan maka penulis dapat mengetahui bagaimana komposisi, kepadatan, keanekaragaman dari bentos dan fitoplankton serta produktifitas primer. Selain itu dengan membaca artikel ini semakin menambah pengetahuan dari penulis mengenai perairan tawar dan limnologi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: