Limnoecology’s Blog

Nama: Abdul Halim

NIM: 406342403756

DANAU

Danau adalah sejumlah air (tawar atau asin) yang terakumulasi di suatu tempat yang cukup luas, yang dapat terjadi karena mencairnya gletser, aliran sungai, atau karena adanya mata air. Biasanya danau dapat dipakai sebagai sarana rekreasi, dan olahraga.

Berdasarkan proses terjadinya, danau dibedakan :

  1. danau tektonik yaitu danau yang terbentuk akibat penurunan muka bumi karena pergeseran / patahan
  2. danau vulkanik yaitu danau yang terbentuk akibat aktivitas vulkanisme / gunung berapi
  3. danau tektovulkanik yaitu danau yang terbentuk akibat percampuran aktivitas tektonisme dan vulkanisme
  4. danau bendungan alami yaitu danau yang terbentuk akibat lembah sungai terbendung oleh aliran lava saat erupsi terjadi
  5. danau karst yaitu danau yang terbentuk akibat pelarutan tanah kapur
  6. danau glasial yaitu danau yang terbentuk akibat mencairnya es / keringnya daerah es yang kemudian terisi air
  7. danau buatan yaitu danau yang terbentuk akibat aktivitas manusia

Danau terkenal

Danau Toba di Sumatra, Indonesia.

  • Danau terbesar di dunia adalah Laut Kaspia. Dengan luas permukaan 394.299 km², ia memiliki wilayah yang lebih besar dari enam danau terbesar berikut digabungkan menjadi satu.
  • Danau air tawar terbesar, dan kedua terbesar adalah Danau Superior dengan luas permukaan 82.414 km².
  • Danau terdalam adalah Danau Baikal di Siberia, dengan kedalaman 1.741 meter (5.712 kaki).
  • Danau tertinggi yang dapat dinavigasi adalah Danau Titicaca, pada ketinggian 3.821 m di atas permukaan laut. Dia juga merupakan danau terbesar kedua di Amerika Selatan.
  • Danau terendah di dunia adalah Laut Mati, pada 396 m (1.302 kaki) di bawah permukaan laut. Dia juga merupakan danau yang memiliki konsentrasi garam paling tinggi.
  • Pulau terbesar di tengah danau air tawar adalah Pulau Manitoulin di Danau Huron, dengan luas permukaan 2.766 km².
  • Danau terbesar yang terletak di pulau adalah Danau Nettiling di Pulau Baffin.
  • Danau Toba di pulau Sumatra kemungkinan terletak di kawah gunung berapi pasif terbesar di dunia.

EMI  YULIASTUTI

406342401028

BIOLOGI’06 “GG”

ANALISIS KRITIS LIMNOLOGI

TINJAUAN LIMNOLOGI PERAIRAN TAWAR KALIMANTAN TENGAH

Limnological Overview of the Freshwater Ecosystem in Central Kalimantan

Ardianor dan Sulmin Gumiri

Staf Pengajar Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan,

Jurusan Perikanan, Fak. Pertanian, Universitas Palangka Raya (UNPAR)

Journal of Tropical Fisheries (2006) 1(2): 98 — 110 Ardianor dan Sulmin Gumiri : Tinjauan Limnologi …

Jurusan Perikanan, Faperta-UNPAR 98

ABSTRAK

Kalimantan Tengah adalah salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki perairan tawar terbesar. Terdapat 11 sungai yang berkuran besar berserta cabang dan rantingnya dimana berasosiasi lebih dari 500 buah danau berukuran kecil, serta rawa yang juga cukup banyak jumlahnya. Kajian limnologi terhadap ekosistem perairan tawar di Kalteng masih terus berjalan. Sejumlah besar publikasi ilmiah dimulai secara simultan sejak tahun 1997, meliputi aspek-aspek fisika-kimia dan hidrologi perairan, biota perairan yaitu plankton, benthos dan ikan serta siklus energi di dalamnya. Gambaran limnologi dalam tulisan ini disajikan sebagai awal dari kegiatan perangkuman kondisi limnologis ekosistem perairan tawar di Kalimantan Tengah sampai dengan tahun 2004. Setelah tahun 2004, kajian yang lebih mendalam telah banyak dilakukan oleh para limnologis khususnya di Universitas Palangkaraya bekerjasama dengan beberapa Universitas di Jepang serta Peneliti Limnologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Barangkali secara bertahap tulisan secara menyeluruh akan disajikan pada tulisan ilmiah berikutnya.

Kata kunci : limnologi, ekosistem, perairan tawar

ABSTRACT

Central Kalimantan is one of the provinces in Indonesia that has large area of freshwater body. Occupied by 11 big rivers and also it’s branches are associated more than 500 small size of lakes and a lot of swamps. Study on limnological aspects of those freshwater ecosystems are on going by many researchers of both Indonesia and overseas. A lot of academic publication has been published since 1997, involving physico-chemical and hydrological aspects, aquatic biota such as plankton, benthos and fish, and energy cycling. Limnological features within this note are presented as prior in compiling and summarizing of state-of-the art of limnological condition in freshwater ecosystem of Central Kalimantan until 2004. After 2004, the deep studies have been done by Indonesian and Japanese scientists under the Core Collaboration between LIPI and JSPS. Further, It would be gradually summarized and published to the next papers or notes.

Keywords : limnology, ecosystem, freshwater.

PENDAHULUAN

Perairan pedalaman (inland water) diistilahkan bagi semua badan air yang berada di daratan. Ilmu yang mempelajari masalah perairan pedalaman atau perairan umum disebut Limnologi. Bentuk-bentuk perairan umum tawar alami yang telah dikenal luas ialah sungai (river atau stream), rawa (swamp) dan danau (lake). Selain alami perairan umum juga dapat dibentuk oleh manusia misalnya waduk (resevoir) dari sungai (waduk sunga) maupun dari rawa (waduk rawa) (Suwignyo, 1982). Air perairan pedalaman umumnya tawar meskipun ada beberapa badan air yang airnya asin; dimana air asin di daratan disebut athalassic saline water. Goldman and Horne (1983) menerangkan bahwa ilmu limnologi mencakup perairan tawar sampai dengan perairan estuaria (payau) di muara sungai.

Limnologi merupakan cabang ilmu ekologi yang secara khusus mempelajari perairan daratan. Sebelum mendiskusikan ekologi perairan tawar secara umum di Kalimantan Tengah, ada baiknya kalau kita melihat dulu kilas balik tentang sejarah penelitian ekologi perairan tawar di Indonesia secara umum. Pengumpulan informasi tentang ekologi perairan umum Indonesia khususnya perairan danau mulai dilakukan sejak tahun 1928-1929 melalui suatu kegiatan ekpedisi yang diberi nama “The Sunda expedition”. Dalam expedisi oleh para ahli Jerman ini, dilakukan studi tentang ekologi air tawar khususnya danau dan waduk di tiga pulau utama Indonesia yaitu Sumatera, Jawa dan Bali. Setelah expedisi ini masih ada beberapa studi sporadis yang dilakukan antara tahun 1970 dan 1990 termasuk salah satu yang terbesar adalah “Expedition Indodanau” yang mencakup danau-danau dan waduk-waduk utama di Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Flores, Sulawesi dan Irian Jaya (Lehmusluoto dkk, 1999). Sayangnya ekologi perairan umum di pulau Kalimantan tidak termasuk dalam kedua ekspedisi besar ini.

Di Kalimantan, informasi tentang perairan umum masih sangat terbatas. Beberapa studi yang agak komprehensif tentang potensi perairan umum di pulau terbesar Indonesia ini kebanyakan berupa inventarisasi keanekaragaman species khususnya species ikan air tawar (Robert, 1989; dan Kottelat dkk, 1996). Sedangkan informasi tentang ekologi perairan umum hanya dibahas sekilas sebagai bagian dari ekologi umum pulau Kalimantan (MacKinnon dkk, 1996). Namun demikian, khusus untuk Kalimantan Tengah, penelitian tentang ekologi perairan umum sudah berlangsung secara intensif sejak tahun 1997 melalui proyek kerjasama penelitian yang disebut “JSPS Core University Program” yang melibatkan antara lain LIPI, Universitas Palangka Raya dan Universitas Hokkaido-Jepang. Di bawah kerjasama internasional ini, informasi tentang ekologi perairan umum Kalimantan Tengah sudah dipublikasikan di berbagai laporan dan jurnal ilmiah baik nasional maupun internasional (Gumiri et al, 2000; Komatsu et al, 2000, Kusakabe et al, 2000, Sulastri and Hartoto, 2000, Iwakuma dan Gumiri, 2003; Gumiri dan Iwakuma, 2003, Ardianor dan Veronica, 2003).

Penelitian yang terpublikasi tersebut di atas masih dianggap masih kurang mengingat data-data dasar yang bersifat time series atau tahunan masih belum secara intensif dilakukan sampai dengan tahun 2001. Mengingat urgensi data-data dasar tersebut sejak tahun 2002 dikembangkanlah Laboratorium Limnologi di lingkungan Universitas Palangkaraya dengan dukungan kejasama JSPS Core University Program. Keberadaan laboratorium yang mapan di lokasi yang tepat adalah suatu dasar dan ini sangatlah penting untuk mendukung pengembangan perairan tawar di Kalimantan Tengah. Tanpa laboratorium yang kuat tidak mungkin kita dapat bekerja dengan baik dan mendapatkan data-data akurat dan terkini untuk mendukung kebijakan pengelolaan perairan umum di Kal-Teng. Sebagai keluarannya, sampai dengan tahun 2004 ini kami sudah mengumpulkan data-data yang cukup penting seperti fluktuasi muka air sungai dan danau, suhu, pH, DO dan aspek biologi lainnya seperti plankton dan benthos yang bersifat tahunan (Wulandari et al., 2003, Ardianor et al., 2004, Gumiri and Iwakuma, 2004, Wulandari et al., 2004 dan Ishikawa et al., 2004). Namun demikian data tersebut masih terbatas pada DAS Kahayan mengingat kendala klasik yaitu keterbatasan dana dan waktu untuk melakukan kegiatan yang sama di DAS lainnya di Kal-Teng. Juga, keterbatasan data berkaitan dengan tipe perairan lainnya, seperti rawa dan estuarin (muara sungai) yang sifatnya longterm monitoring. Walaupun demikian disini sekilas akan kami tampilkan informasi mengenai kualitas fisika, kimia dan biologi di beberapa perairan wilayah Kal-Teng yang sifatnya temporer seperti studi-studi awal atau analisis Amdal yang kami ikut terlibat di dalamnya dan diyakini datanya cukup layak untuk dipresentasikan.

TIPE PERAIRAN UMUM TAWAR KAL-TENG

Dalam ilmu limnologi dikenal adanya dua macam perairan umum yaitu perairan yang mengalir (lotic water) dan perairan yang tergenang (lentic water). Contoh perairan yang mengaliri adalah sungai atau kali, kanal dan selokan; sedangkan perairan tergenang yaitu danau, rawa, situ, telaga, embung dan waduk.

Di Kalimantan Tengah selain 10 buah sungai besar yang mengalir langsung ke Laut Jawa dan cabang-cabang sungai, dijumpai banyak danau dan rawa yang umumnya berasosiasi dengan sungai-sungai tersebut. Sungai-sungai di Kalimantan Tengah dapat digolongkan ke dalam tipe Sungai Permanen yaitu sungai yang airnya terisi dan mengalir sepanjang tahun. Walaupun terjadi musim kemarau yang panjang sungai-sungai di Kalimantan Tengah tidak pernah kekeringan sampai tidak ada airnya. Sepuluh sungai besar tersebut mengalir sejajar dari Utara bersumber dari gugusan Pegunungan Schwaner dan Muller ke Selatan yaitu Sungai Barito, Sungai Kapuas, Sungai Kahayan, Sungai Sebangau, Sungai Katingan, Sungai Mentaya, Sungai Seruyan, Sungai Kumai, Sungai Lamandau dan Sungai Jelai. Sungai Barito adalah sungai terbesar (lebar mencapai 250 m dan panjang sekitar 900 km, Hortle (1995)) dan terpanjang dapat dilayari sampai dengan 600 km, sedangkan Sungai Sebangau adalah sungai terkecil dan terpendek bisa dilayari kurang lebih 200 km.

Danau-danau di wilayah ini dapat digolongkan kedalam 3 tipe danau yang umumnya terjadi akibat dinamika hidrologi air sungai utama. Danau Sembuluh adalah salah satu danau terbesar terletak di DAS Seruyan, diprakirakan terjadi akibat pen-Dam-an alamiah pad Sungai Rungau, cabang Sungai Seruyan. Umumnya danau-danau di DAS Seruyan yang cukup besar setelah Danau Sembuluh, seperti Danau Papudak dan Danau Seluluk memiliki proses kejadian yang sama. Tipe danau kedua adalah danau oxbow (oxbow lake) termasu danau sungai (fluviatile/river lake) yaitu bagian dari tipe limpasan dataran sungai (floodplain) yang mana terjadinya suatu pengisolasian putaran dari lekukan-lekukan sungai (meander) atau sungai tua (mature stream). Danau ini sering cukup dalam karena menempati segmen dari sungai (Cole 1983; Joo and Ward 1990). Tipe danau ketiga adalah backwater- lake yaitu danau yang terjadi akibat terisinya cekungan dibelakang sungai oleh air sungai utama. Danau ini juga termasuk danau limpasan banjir (flood-plain). Danau oxbow dan danau backwater di Kalimantan Tengah cukup banyak, sejauh ini belum terekam secara pasti, walaupun diperkirakan jumlahnya mungkin diatas 500 buah terlihat pada peta satelit, tersebar di sepanjang sungai-sungai besar.

Perairan dikatakan bertipe rawa apabila perairan tersebut dangkal bertepian landai dan penuh tumbuhan airnya. Menurut Nirarita dkk. (1996) rawa merupakan istilah yang bermakna luas yaitu sebutan untuk semua daerah yang tergenang air baik secara musiman atau permanen serta ditumbuhi vegetasi. Secara spesifik rawa di Kal-Teng dibedakan menjadi tiga bergantung kepada ekosistem teresterial yang mengelilinginya yaitu (1) perairan rawa gambut adalah perairan dangkal yang terletak di daerah hutan rawa gambut mempunyai pH dan kandungan oksigen yang rendah; (2) perairan rawa alluvial adalah perairan dangkal pada tanah alluvial dataran rendah yang terletak diantara dua sungai jauh masuk ke pedalaman atau dataran dekat pantai yang luas yang digenangi air secara permanen atau musiman, baik air hujan maupun limpasan air sungai (Nirarita dkk. 1996). Kandungan oksigen dan pH biasanya lebih tinggi dari perairan rawa gambut dan (3) perairan rawa tanpa hutan atau myre adalah perairan rawa yang didominasi oleh gabungan tanaman teresterial dan makrofita akuatik, mempunyai badan air yang relatif terbuka (MacKinnon dkk., 2000) . Di Jepang penelitian mengenai jenis rawa (myre) ini sudah begitu mendalam seperti dilaporkan oleh Iwakuma (1996). Istilah yang digunakan oleh masyarakat dayak untuk rawa ini adalah Luwau Napu atau di Sumatera disebut Lebak Lebung. Perairan rawa ini di Kal-Teng cukup luas namun sejauh ini belum terinventarisasi dengan baik. Contoh rawa di wilayah ini seperti rawa Bengaris dan Kalampangan (dekat Palangkaraya), rawa Kamipang (di DAS Katingan) dan rawa di sepanjang DAS Sebangau Besar dan Kecil.

HIDROLOGI DAN KUALITAS FISIKA-KIMIA AIR

Sungai

Sumber air di sungai-sungai berasal dari sumber air bawah tanah yang muncul kepermukaan dan berasal dari air hujan melalui siklus hidrologi. Air tanah yang mengairi sungaisungai kecil (stream) di bagian hulu dan pegunungan bergabung menjadi sungai besar yang ciri khas berupa adanya gesekan keras yang terus menerus antara air dengan batu-batu besar. Begitu mencapai dataran rendah di bagian tengah, sungai-sungai di Kalimantan Tengah cenderung berkelok-kelok membentuk “meander” dengan warna air cenderung keruh sepanjang waktu.

Kecepatan arus (aliran) sungai-sungai kecil anak Sungai Katingan seperti Sungai Samba dan Sungai Hiran beserta cabang-cabangnya cukup bervariasi 0,5 – 0,8 m/detik, dan debit air berkisar antara 3 – 100 m3/det pada saat musim kemarau (PPLH-UNPAR, 2002a), sedangkan pada Sungai Kahayan debit air berkisar antara 164 – 1.981 m3/detik, maksimum bisa mencapai 2.203 m3/detik dan minimum 62 m3/detik (Dinas Pertambangan, 1997). Elita dan Kembarawati (2000) melaporkan bahwa kecepatan arus di Sungai Mentaya berkisar antara 0,26 – 0,48 m/detik. Pada Sungai Jango dan Sungai Panaan yang merupakan anak Sungai Tabalong Kiwa di Wilayah Barito Timur mempunyai kecepatan arus berkisar 0,1 – 0,96 m/detik dengan debit 0,05 – 33 m3/detik (PPLH-UNPAR, 2002b). Kecerahan air di Sungai Samba berkisar antara 35 – 50 cm, semetara di Sungai Hiran berkisar antara 15 – 68 cm (PPLH-UNPAR, 2002a). Di Sungai Kahayan kecerahan berkisar 12 – 29 cm (Dinas Pertambangan, 1997), sedangkan di Sungai Seruyan (Elita dan Kembarawati, 2000) dan kelompok Sungai Tabalong Kiwa (PPLH-UNPAR, 2002b) masing-masing berkisar antara 25 – 40 cm dan 58 – 80 cm. Gambaran suhu, pH, oksigen terlarut dan karbondioksida bebas dibeberapa sungai di Kalimantan Tengah hampir tidak berbeda jauh seperti disajikan dalam Tabel 1. Tabel 1. Gambaran suhu, pH, oksigen terlarut di beberapa sungai besar di Kal-Teng Sungai dan Kelompok sungai Suhu (oC) pH O2 (mg/ l) Sumber Sungai Samba 25 – 26 5,0 – 7,0 7,4 – 8,1 PPLH-UNPAR (2002a ) Sungai Hiran 24 – 26 6,5 – 7,3 7,9 – 8,3 PPLH-UNPAR (2002a) Sungai Seruyan 25 – 30 4,5 – 5,8 1,3 – 2,9 Elita dan Kembarawati (2000) Sungai Kahayan 26 – 30 5,6 – 6,6 4,9 – 8,5 Dinas Pertambangan (1997) Sungai Jango, Panaan dan Tabalong Kiwa 25,0 – 25,5 6,6 – 7,4 6,5 – 8,2 PPLH-UNPAR (2002b).

Kurasaki et al. (2000) melaporkan kondisi fisika kimia air di Sungai Kapuas Murung, Sungai Kapuas, Sungai Kahayan dan Sungai Sebangau (hasil tidak digambarkan dengan kisaran tetapi rata-rata pengukuran). Suhu air di Sungai Kapuas Murung dan Sungai Kapuas adalah 31,3 oC dan 29,6 oC, sementara pH adalah 4,8 dam 4,2. Di Sungai Kahayan dan Sungai Sebangau suhu secara berurutan 30,4 oC dan 30,3 oC, sedangkan pH adalah 6,6 dan 3,9.

Danau

Secara hidrologis sumber atau suplai air danau-danau oxbow dan limpasan banjir lainnya adalah umumnya berasal dari sungai utama. Memang ada sebagian danau yang sumber airnya berasal dari dalam tanah. Sehingga danau-danau tersebut ekologinya sangat dipengaruhi oleh tingkat konektivitas atau keterbukaannya dengan sungai. Ukuran penyabaran danau-danau tersebut juga sangat mempengaruhi ekosistemnya. Kedalaman danau-danau tersebut bervariasi antara 3 – 14 m. Fluktuasi muka air danau di DAS Kahayan antara musim kemarau dan musim penghujan bisa mencapai 6 m (Wulandari et al., 2003).

Sifat fisika kimia air di danau khususnya suhu, pH dan oksigen terlarut cukup bervariasi. Danau-danau di wilayah Sungai Seruyan suhu air berkisar antara 28 – 33 oC, sedangkan pH dan DO masing-masing berkisar antara 4,2 – 6,1 (rata-rata 5,2) dan 2,4 – 7,1 mg/l (rata-rata 5,3 mg/l) (Ardianor et al., 2003). Di danau-danau pada DAS Kahayan, gambaran suhu, pH dan oksigen juga bervariasi menurut tempat dan waktu. Mengingat cukup banyaknya danau yang telah diperoleh data dasar di DAS Kahayan maka dalam makalah ini hanya tiga buah danau yang akan diinformasi berdasarkan tingkat konektivitasnya dengan Sungai Kahayan. Danau Batu adalah salah satu danau backwater yang sangat terisolir dari Sungai Kahayan. Suhu pada danau ini berkisar antara 27 – 33oC; sedangkan pH dan DO masing berkisar antara 3,82 – 6,84 dan 0,7 – 5,5 mg/l. Danau Hurung adalah danau oxbow yang semi tertutup terhadap Sungai Kahayan. Gambaran suhu, pH dan DO pada danau cukup bervariasi dengan kisaran masing-masing secara berurutan: 25 – 34,5oC, 2,46 – 6,65 dan 0,5 – 5,29 mg/l. Danau Tehang, juga merupakan danau oxbow yang mempunyai tingkat keterbukaan paling besar dengan Sungai Kahayan. Danau ini terbuka pada bagian hulu dan hilirnya. Gambaran suhu, pH dan DO secara berurutan berkisar antara 28 – 35,1oC, 3,47 – 6,05 dan 2,30 – 8,64 mg/l (Wulandari et al., 2003).

Rawa

Sesuai dengan tipe-tipe rawa, rawa gambut umumnya tersebar di bagian hilir (downstream area) DAS Barito, Kahayan, Sebangau, Katingan dan Mentaya. Suplai air rawa gambut utamanya berasal dari sungai utama, sebagian rawa berasal dari cabang anak sungai utama. Rawa tanah alluvial, dalam hal ini belum teridentifikasi dan tidak ada data. Selanjutnya untuk rawa tanpa hutan atau luwau napu juga tersebar di DAS Barito, Kahayan, Sebangau, Katingan dan Mentaya. Sumber air berasal dari sungai utama dan anak-anak sungai dimana rawa tersebut berada. Luwau Napu yang berada di sekitar lahan gambut airnya akan terlihat coklat tua (humic substance), sedangkan yang berada pada tanah alluvial dan mineral air cenderung bening. Permukaan air di perairan rawa sangat berfluktuasi dari yang paling dalam mencapai 2 meter di musim penghujan sampai dengan tidak berair di musim kemarau. Rawa yang terbentuk akibat sungai atau anak sungai yang mengalir melewati dataran/ daerah limpasan banjir yang luas, biasanya pada musim kemarau air hanya berada pada basin sungai, sedangkan daerah limpasan banjir menjadi lahan basah seperti rawa S. Kamipang dan rawa S. Bulan, DAS Katingan.

Di Kalimantan Tengah sedikit sekali penelitian mengenai rawa walaupun luasan rawa diklaim sangat besar. Yantrinata et al. (2003) melakuan studi di Rawa Bengaris dan Rawa Kalampang di wilayah Kotamadya Palangkaraya dengan kedalaman rata-rata 0,8 m. Gambaran parameter fisika kimia perairan seperti kecerahan, suhu, pH dan oksigen terlarut secara berurutan berkisar antara 65 – 68 cm, 39 – 39, 6oC, 3,7 – 4,5 dan 0,4 – 2,5 mg/l. Di rawa S. Kamipang suhu, pH dan DO secara berurutan berkisar antara 26 – 28oC, 3,5 – 4,6

dan 2,4 – 3,7 mg/l; sedang kan di rawa S. Sebangau Kecil suhu, pH dan DO secara berurutan berkisar antara 25,9 – 27,3oC, 3,80 – 4,05 dan 2,6 – 5,0 mg/l (Data observasi Juni 2004).

BIOTA PERAIRAN

Fitoplankton

Kelimpahan fitoplankton di Danau Sabuah (DAS Kahayan) sebesar 1.968 ind./l (Torang, 1995); 2.358 ind./l (Buchar 1998); dan Ardianor (1999) berkisar 54 – 80 ind./l (mikroplankton >45 mm,); serta Kusakabe et al. (2000) 183 – 684 ind/ml (phycoplankton dan nannoplankton < 20 m , dominan adalah Chlamydomonas sp., Cryptomonas sp., dan Trachelomonas sp.). Fitoplankton di Danau Takapan (DAS Rungan) sangat melimpah yaitu 3.337 ind./l didominasi oleh Bacillariophyceae dan Chlorophyceae, khususnya Navicula, Synedra, Tabellaria, Cloterium dan Spirogyra (Sulastri and Hartoto, 2000). Danau-danau di

DAS Seruyan kelimpahan fitoplankton dan konsentrasi chlorofil-a disajikan dalam Tabel 2. Table 2. Kelimpahan fitoplankton dan konsentrasi chlorofil-a pada danau-danau di DAS Seruyan (Ardianor et al. 2003).

Di Danau Tehang, Hurung dan Batu secara keseluruhan teridentifikasi 65 genera fitoplankton (> 20 um) yang didominasi oleh famili Euglenidae, Phacus dan Trachelomonas (heterotrophyc-flagellates) dengan kelimpahan rata-rata 948, 395 dan 113 ind/l. Biomassa fitoplankton di ketiga juga cukup tinggi secara berurutan 30293, 17301 and 8096 mgC×m-3. Namun demikian kandungan chlorofil-a masih rendah yang masing-masing secara berurutan untuk Danau Tehang, Hurung dan Batu adalah 4.6, 4.9 and 3.2 ug/l. Hal tersebut karena fitoplankton dominan di danau-danau tersebut adalah heterotropik-flagelata, dimana kandungan chlorofil-a dalam selnya rendah (Ardianor et al., 2004).

Zooplankton

Berbeda dengan fitoplankton informasi mengenai zooplankton secara spasial di perairan Kal-Teng masih sedikit. Gambaran komunitas zooplankton dibeberapa sungai di Kalimantan Tengah cukup bervariasi. Di bagian hulu Sungai Katingan teridentifikasi 17 jenis Danau Chl-a (ug/l) Fitoplankton (inds./l) Lake Sembuluh 7.9 267 Lake Bakung 2.9 362 Lake Jahitan 11.8 2606 Lake Papudak 1.1 83 Lake Bahaya 7.5 54 Lake Seluluk 12.9 1198 yang terdiri dari klas Rortifera, Nematoda dan Copepoda, dengan kelimpahan rata-rata 7 ind/l; sedangkan dihulu Sungai Lamandau lebih besar yaitu rata-rata 15 ind/l (PPLHUNPAR, 2002a). Pada Sungai Teweh (DAS Barito) teridentifikasi 20 genus dengan kelimpahan rata-rata 52 ind/l yang didominasi oleh Rotifera (PPLH-UNPAR, 2004a). Pada Sungai Rungau (DAS Seruyan) teridentifikasi 13 genus zooplankton dengan rata-rata kelimpahan 25 ind/l, didominasi oleh Rotifera dan Copepoda (PPLH-UNPAR, 2004b).

Kelimpahan zooplankton di Danau Sabuah yaitu 6,5 ind./l, yang meliputi Rotifera, Cladocera, dan Copepoda (naupli, copepodit dan dewasa) (Gumiri, et al., 2000). Sedangkan menurut Ardianor et al. (2000) kelimpahan zooplankton di Danau Sabuah adalah 13 ind/l. Di Danau Tundai Zooplankton cukup melimpah mencapai 25 ind/l didominasi oleh kelompok rotifera (Gumiri et al., 2000). Menurut Yantrinata et al. (2003) kelimpahan zooplankton di D. Bunter dan D. Tahai berbeda dimana di D. Bunter didominasi oleh kelompok rotifera dan cladocera sedangkan di D. Tahai didominasi kelompok copepoda. Pada danau-danau di DAS Seruyan zooplankto teridentifikasi sebanyak 20 jenis, terdiri tas atas Rotifera, Cladocera, Copepoda, Nematoda dan Rhizopoda, dengan kelimpahan berkisar antara 3 – 146 ind./l. Species dominan adalah Polyarthra vulgaris dengan kelimpahan tertinggi di Danau Seluluk (Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Tengah, 2003).

Benthos

Sama halnya dengan zooplankton, informasi mengenai zoobenthos juga sangat terbatas secara spasial. Jumlah jenis organisme benthos yang terdapat hulu Sungai Katingan dan Senamang cukup banyak yaitu 16 genera, dengan kelimpahan berkisar 222 – 711 ind./m2; sedangkan di hulu Sungai Lamandau ditemukan 7 jenis dengan kelimpahan berkisar 178 – 311 ind./m2 (PPLH-UNPAR, 2002a). Di Sungai Teweh (DAS Barito) teridentifikasi 14 jenis organisme benthos dengan kelimpahan berkisar 222 – 355 ind./m2, dengan rata-rata 297 ind./ m2 (PPLH-UNPAR, 2004a). Di Sungai Rungau teridentifikasi 10 genus makrozoobenthos dengan rata-rata kelimpahan 40 ind/m2, didominasi oleh famili Anellida dan Insecta (PPLHUNPAR, 2004b).

Makrozoobenthos di D. Hurung di dominasi oleh Chironomus dan Naidium dengan rata-rata kelimpahan 88 ind./m2. Di D. Bunter ditemukan 7 famili yaitu Aelosomatidae, Naididae, Tubificidae, Corbiculidae, Spaeriidae dan Ceratopogonidae dengan masing-masing jenis berkisar antara 44 – 1022 ind./m2. Di Danau Tehang dominan spesies makrozoobenthos adalah Branchiura (Tubificidae), Naidium (Naididae) Curbicula (Molusca) dan ordo Tricoptera (Insecta) (Wulandari et al., 2003).

Tumbuhan Air

Informasi mengenai tumbuhan air di perairan Kal-Teng sangat terbatas. Inventarisasi yang dilakukan oleh tim peneliti Limnologi-Unpar masih disekitar danau. Keterbatasan data karena belum ada peneliti yang secara khusus mendalami tumbuhan. Namun demikian beberapa spesies yang teridentifikasi di Danau Tundai adalah eceng gondok (Eichornia crassipes), eceng kebo (Monchoria hastata), kiambang (Salvinia natans), rumput ekor kucing (Utricularia aurea), kakarewaan (Azolla pinata), kumpai air (Eichnochloa stagnina), gerigit (Leersia hexandra), walingi (Cyperus elatus), kumpai lengo (Polygonum sp.) dan rasau (Pandanus minor). Sedangkan di Danau Batu, Bunter dan Tehang hanya dijumpai satu jenis tumbuhan air yaitu pandan berduri (Pandanus sp.), ini lebih sebagai semi-tumbuhan air (Personal komunikasi : Linda Wulandari, Juli 2004). Pada danau-danau di DAS Seruyan juga teridentifikasi beberapa tumbuhan air yang dominan seperti disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Tumbuhan air dominan di danau-danau di DAS Seruyan (CBF, 2003).

Ikan

Di perairan hulu Sungai Lamandau teridentifikasi 10 species yaitu Puhing

(Cyclocheilichthys apogon), Saluang Bulu (Rasbora argyrotaenia), Salap (Barbodes shwanenfeldii), Manangin (Osteohilus vitatus), Johar (Luciosoma trinema), Lais Junggang (Kryptopterus apogon), Lele (Clarias batrachus), Sanggaringan (Mystus nigriceps), banta (Pancax pancax) dan benduk (Puntius javanicus). Sedangkan di hulu Sungai Katingan dan Seruyan teridentifikasi 34 species (PPLH-UNPAR, 2002a). Pada Sungai Teweh menurut (PPLH-UNPAR, 2004a) teridentifikasi 51 species yang didominasi oleh Cyclocheilichthys sp., Osteochilus sp., Chana sp., dan Mystus sp. Beberapa jenis ikan ekonomis penting yang mulai langka seperti jelawat (Leptobarbus sp.) dan patin sungai (Pangasius sp.) masih ditemukan. Buchar (1998) menggambarkan bahwa jumlah jenis ikan di Danau Sabuah cukup besar yaitu ada 48 jenis, dengan kelimpahan terbesar pada jenis ikan Cyclocheilichthys sp., Osteochilus sp., Helostoma sp., Trichogaster sp., Rasbora sp., dan Macrones sp. Berdasarkan kebiasaan makanannya, ikan di Danau Sabuah terbagi atas tiga golongan yaitu sebanyak 21 jenis (45,8%) karnivora, 18 jenis (35,4%) herbivora, dan 9 jenis (18,7%) omnivora. Dari Doi (2001) bahwa jenis ikan di Danau Takapan cukup banyak yaitu ditemukan 55 jenis yang didominasi oleh beberapa species seperti Osteochilus sp., Cyclocheilichtis sp., Rasbora sp., Cryptopterus sp., dan Thynnichthys sp. Selanjutnya Torang and Buchar (2000) melaporkan bahwa keragaman ikan di Danau Tundai cukup besar yang didominasi oleh famili Cyprinidae dan Siluridae (Cryptopterus sp. dan Mystus sp.). Sedangkan Komatsu et al. (2000) melaporkan bahwa ikan di Danau Tundai juga cukup beragam yang didominasi oleh sepat (Trichopterus sp.), puyau-puyaan (Osteochilus sp.), puhing (Cyclocheilichtis apogon) dan baung (Mystus sp.). Titik Pengamatan Jenis Tumbuhan Air Dominan D-Sembuluh (Muara Sebani ) Eceng (Eichornia sp) dan kiapu (Pistia stratiotes) D-Bakung Eceng gondok (Eichornia crassipes), genjer (Limnocharis flava), Bakung air (Hansuana malayana), Kiapu (Pistia stratiotes) Kangkung (Ipomoea aquatica) dan Kumpai air (Eichnochloa stagnina) D-Jahitan Eceng gondok (Eichornia crassipes), Kiapu (Pistia stratiotes) Kiapu (Pistia stratiotes) D Papudak Eceng gondok (Eichornia crassipes), Kiapu (Pistia stratiotes) Kumpai air (Polygonum pulchrum) D-Bahaya Eceng gondok (Eichornia crassipes), Kiapu (Pistia stratiotes) Kangkung (Ipomoea aquatica), Lucut Cai (Hydrilla verticillata) D-Seluluk Eceng gondok (Eichornia crassipes), Kiapu (Pistia stratiotes) Bakung air (Hansuana malayana)

SUPLAI ENERGI

Berkaitan dengan sumber energi di perairan tawar kita mengenai istilah “autocthonous” dan “allouctonous”. Autochtonous adalah suplai energi dari dalam ekosistem perairan itu sendiri, misal proses fotosistesis alga dan tumbuhan air tingkat tinggi dengan menyerap energi matahari mamanfaatkan bahan anorganik yang ada di perairan. Sedangkan allouctonous adalah sumber energi berasal dari luar ekosistem perairan berupa bahan organik dan anorganik yang masuk keparairan dari daratan dan udara. Dalam hal ini informasi mengenai energi disajikan hanya pada perairan tenang, khususnya danau. Di danau-danau oxbow dan backwater suplai energi ke dalam ekosistem danau lebih besar berasal dari allouctonous yakni dari hutan yang mengelilingi danau dibandingkan dengan yang berasal dari produksi primer. Ishikawa et al. (2004) mejelaskan bahwa produksi primer di Danau Sabuah hanya 172 mgC⋅cm-2⋅hari-1, sedangkan jatuhan bahan organik yang berasal dari hutan mengeliling dan menaungi danau berkisar antara 0,1 – 4 g berat kering⋅m-2⋅hari-1. Rasio produksi allouctonous terhadap autocthonous dalam hal ini sekitar 23,25, walaupun jatuhan (litter fall) tersebut melalui berbagai untuk menyediakan bahan anorganik. Hal ini sejalan dengan Ardianor et al. (2004), fitoplankton yang dominan di Danau Batu adalah klas Euglenidae atau kelompok heterotrofik-flagelata. Euglenidae sedikit mengandung chlorofil-a dan kemungkinan sumber energinya berasal dari bahan organik tersuspensi dan bakteri.

Disamping itu hutan disekeliling danau dan sungai merupakan tempat yang baik untuk kehidupan serangga (insekta) dan berkaitan juga dengan daur hidup insekta yang setengahnya di air. Serangga yang jatuh dari pepohonan juga merupakan sumber energi secara langsung bagi ikan-ikan. Yulintine (2001) melakukan penelitian dengan memasang perangkap serangga dipermukaan air Danau Tundai, memperlihatkan bahwa biomassa insekta tertangkap cukup besar yang didominasi secara berurutan oleh Diptera, Hymenoptera, Trichoptera, Coleoptera, Hemiptera dan Lepidoptera.

DAFTAR PUSTAKA

Ardianor and E. Veronica 2003. Phytoplankton communities in a group of oxbow lakes around Sigi Village, Central Kalimantan. Proceeding of International Symposium on Land Management and Biodiversity in Southeast Asia, Bali September 2002.

Ardianor, 1999. Pengaruh Pemindahan Massa Air Dasar ke Lapisan Permukaan dan Pemberian Kapur Terhadap Produktivitas Primer dan Kelimpahan Fitoplankton di Danau Sabuah. Tesis tidak dipublikasi. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor, Indonesia.

Ardianor, E.M. Adiwilaga, H. Effendi and F. Widjaja, 2000. Effects of Artificial Mixing of Surface and Bottom Waters and Lime Treatment on the Abundance and Primary Productivity of Phytoplankton in Lake Sabuah. In T. Iwakuma et al. (ed). Proceedings of the International Symposium on: Tropical Peat lands, Bogor, Indonesia, 22 – 23 November 1999. Graduate School of Environmental Earth Science, Hokkaido Univ., Sapporo, Japan. Journal of Tropical Fisheries (2006) 1(2): 98 — 110

Ardianor dan Sulmin Gumiri : Tinjauan Limnologi … Jurusan Perikanan, 107 Faperta-UNPAR

Ardianor, T. Handayani and Aunurafik 2003. A preliminary study on phytoplankton in several Lakes of Seruyan River System. Paper Presented on Informal Meeting of JSPSLIPI Core University Program, June 2003.

Ardianor, Trisliana and T. Iwakuma 2004. Species composition of net phytoplankton of oxbowand backwater flood plain lakes in fresh water swamp ecosystem of Central Kalimantan. Paper presented on weekly Limnological Laboratory-UNPAR seminar.

Buchar, T. 1998. Bioekologi Komunitas Ikan di Danau Sabuah. Tesis. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor, Indonesia. 108 halaman.

Cole, G. A. 1983. Text Book of Limnology. Third Edition. Waveland Press, INC. USA. Dinas Kelautan dan Perikanan Kalimantan Tengah, 2003. Kajian Perikanan Berbasis Budidaya : Identifikasi dan Estimasi Daya Dukung Lingkungan, di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Dinas Pertambangan, 1997. Identifikasi Dampak Lingkungan Penambangan Emas Tanpa Ijin (PETI) Pada Das Kahayan. Kejasama Dinas Pertambangan dengan Pusat Penelitian Hidup (PPLH)-UNPAR.

Doi, A. 2001. Limnological Data for Lake Takapan and Tabiri in June 2000 with a List of Fishes Collected. Annual Report April 2000 – March 2001 on Environmental Conservation and Land Use Management of Wetland Ecosystem in Southeast Asia, School of Environmental Earth Science, Hokkaido Univeristy.

Elita dan Kembarawati, 2000. Analisa Kualitas Fisika dan Kimia Air di Sungai Mentaya Kabupaten Kotawaringin Timur. Jurnal Central Kalimantan Fisheries 1: 6 – 12. Goldman, C.R. and A. J. Horne, 1983. Limnology. McGraw-Hill. New York. USA.

Gumiri, S. & T. Iwakuma 2003: The dynamics of rotiferan communities in relation to environmental factors: Comparison between two tropical oxbow lakes with different hydrological condition. – Verh. Internat. Verein. Limnol. 28: 1885-1889

Gumiri, S. and T. Iwakuma 2004. Seasonal dynamics of zooplankton communities in interconnected tropical swamp lake ecosystems. Paper presented on weekly Limnological Laboratory-UNPAR seminar.

Gumiri, S., A. Hafid, T. Iwakuma, R. Komatsu and K. Kusakabe, 2000. A Preliminary Study on the Dynamics of Zooplankton Community in Two Humic Lakes of Central Kalimantan. In T. Iwakuma et al. (ed). Proceedings of the International Symposium on: Tropical Peat lands, Bogor, Indonesia, 22 – 23 November 1999. Graduate School of Environmental Earth Science, Hokkaido Univ., Sapporo, Japan.

Hortle, K. 1995. A Survey of the Barito River Fishery Near Mount Muro, Central Kalimantan Indonesia. In K.H. Timotius and F. Goltenboth (eds.), Tropical Limnology, Vol. III, Satya Wacana Christian University, Salatiga, Indonesia. Journal of Tropical Fisheries (2006) 1(2): 98 — 110 Ardianor dan Sulmin Gumiri : Tinjauan Limnologi … Jurusan Perikanan, Faperta-UNPAR 108

Ishikawa, T., Yurenfri, Ardianor and T. Iwakuma 2004. Estimastion of primary production and litter fall flux in Lake Batu, Sigi Village, Central Kalimantan. Paper presented on weekly Limnological Laboratory-UNPAR seminar.

Iwakuma, T. 1996. Mires of Japan : Ecosystems and Monitoring of Miyatoko, Okayachi and Kushiro Mires. Nasional Institute for Environmental Studies.

Joo G. J. and Amelia K. Ward, 1990. Morphometric Characterization of Oxbow Lakes Along the Black Warrior River, Southern United Stated. Verh. Internat. Verein. Limnol. 24: 524 – 531.

Komatsu, R., S. Gumiri, D.I. Hartoto, and T. Iwakuma. 2000. Diel and Seaseonal Feeding Activities of Fishes in an Oxbow lake of Central Kalimantan. p. 455 – 467. In T. Iwakuma (ed). Proceedings of the International Symposium on: Tropical Peat Lands, Bogor, Indonesia, 22 – 23 November 1999. Graduate School of Invironmental Earth Science, Hokkaido Univ., Sapporo, Japan.

Kottelat, M., J.A. Whitten., S.N. Kartikasari dan Wiryoatmodjo. 1993. Ikan Air Tawar Indonesia Bagian Barat dan Sulawesi. Edisi Dwibahasa Inggris-Indonesia. Periplus Edition, Indonesia. 293 p. Kurasaki, M., D.I. Hartoto, T. Saito, M. Suzuki-Kurasaki and T. Iwakuma. 2000. Surface Water Quality in Central Kalimantan, Indonesia. In T. Iwakuma et al. (ed). Proceedings of the International Symposium on: Tropical Peat lands, Bogor, Indonesia, 22 – 23 November 1999. Graduate School of Environmental Earth Science, Hokkaido Univ., Sapporo, Japan.

Kusakabe, K., T. Iwakuma and Sulastri, 2000. Seaseonal Changes of Phytoplankton Species in Relation to Environmental Factors in an Oxbow Lake of Central Kalimantan, Indonesia. In T. Iwakuma et al. (ed). Proceedings of the International Symposium on: Tropical Peat lands, Bogor, Indonesia, 22 – 23 November 1999. Graduate School of Environmental Earth Science, Hokkaido Univ., Sapporo, Japan. Lehmusluoto, P., Machbub, B., Terangna, N., Achmad, F., Boer, L., Brahmana, S.S.,

Setiadji, B., Priadie, B. Timotius, K.H. & Goeltenboth, F. (1999): Limnology in Indonesia: From the Legacy of the Past to the Prospects for the Future. Dalam: Wetzel, R.G. & Gopal, B. (ed.) Limnology in Developing Countries Vol 2. International Association for Limnology. Hal 119-234

MacKinnon, K, G. Hatta, H. Halim dan A. Mangalik 2000. Ekologi Kalimantan. Prehalindo, Jakarta, Indonesia. Nirarita, CH. P. Wibowo, S. Susanti, D. Padmawinata, Kusmarini, M. Syarif, Y. Hendriani,

Kusnianingsih, L. Sinulingga. 1996. Ekosistem Lahan Basah Indonesia : Buku Panduan untuk Guru dan Praktisi Pendidikan. Wetland Intetnational Indonesia Programme, Bogor, Indonesia.

PPLH-UNPAR, 2002a. Laporan Utama Analsis Dampak Lingkungan (ANDAL) PT.Sari Journal of Tropical Fisheries (2006) 1(2): 98 — 110 Ardianor dan Sulmin Gumiri : Tinjauan Limnologi … Jurusan Perikanan, 109 Faperta-UNPAR Bumi Kusuma. Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, Universitas Palangka Raya, Palangkaraya, Indonesia.

PPLH-UNPAR, 2002b. Laporan Utama Analsis Dampak Lingkungan (ANDAL) PT. Karya Inti Sakti Bara. Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, Universitas Palangka Raya, Palangkaraya, Indonesia.

PPLH-UNPAR, 2004a. Laporan Utama Analsis Dampak Lingkungan (ANDAL) PT. IndeximUtama. Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, Universitas Palangka Raya,Palangkaraya, Indonesia.

PPLH-UNPAR, 2004b. Laporan Utama Analsis Dampak Lingkungan (ANDAL) PT. Sumber  Indah Perkasa. Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, Universitas Palangka Raya, Palangkaraya, Indonesia.

Roberts, T.R. (1989): The freshwater fishes of Western Borneo (Kalimantan Barat, Indonesia). – California Academy of Sciences, San Francisco.

Sulastri and D.I. Hartoto, 2000. Distribution of Phytoplankton in Some Oxbow Lakes of Central Kalimantan. In T. Iwakuma et al. (ed). Proceedings of the International Symposium on: Tropical Peat lands, Bogor, Indonesia, 22 – 23 November 1999. Graduate

School of Environmental Earth Science, Hokkaido Univ., Sapporo, Japan.

Suwignyo, P. 1982. Konsep Pengelolaan Perikanan di Waduk (Danau Buatan). Pros. No. 1/ SPPU.

Torang, I. 1995. Hubungan Antara Iluminasi dengan Kelimpahan dan Komposisi Jenis Fitoplankton. (Tesis). Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB). Bogor.

Torang, M. and T. Buchar 2000. Concept of sustainable development of local fish resource in Central Kalimantan. In T. Iwakuma et al. (ed). Proceedings of the International Symposium on: Tropical Peat lands, Bogor, Indonesia, 22 – 23 November 1999. Graduate School of Environmental Earth Science, Hokkaido Univ., Sapporo, Japan.

Wulandari, L. Yulintine and T. Iwakuma. 2003. Structural Community of Macrozoobenthos in Several Oxbow Lakes of Central Kalimantan.

Wulandari, L., Ardianor, T. Buchar, E. Veronica, Yulintine, S. Gumiri, T. Iwakuma, H. Yamato, Tri Septiani, Yantrinata, R. Hariwinata, Yurenfri, Trisliana and J. Indra. 2003. Limnological data for lakes in the vicinity of Sigi Village-Palangka Raya. Annual Report for April 2002 – March 2003 of Environmental Conservation and Land Use Management of Wetland Ecosystem in Southeast Asia.

Wulandari, L., Yulintine, Tri Septiani and T. Iwakuma 2004. Abundance and diversity of makrozoobenthos of lakes in the vicinity of Sigi Village, Central Kalimantan, Indonesia. Paper presented on weekly Limnological Laboratory-UNPAR seminar.

Yantrinata, S. Gumiri, K. Bungas and T. Iwakuma. 2003. Zooplankton Commnities in Various Freshwater Bodies Surround Palangkaraya City, Central Kalimantan-Indonesia. Journal of Tropical Fisheries (2006) 1(2): 98 — 110 Ardianor dan Sulmin Gumiri : Tinjauan Limnologi … Jurusan Perikanan, Faperta-UNPAR 110 Proceeding of International Symposium on Land Management and Biodiversity in Southeast Asia, Bali September 2002.

Yulintine, L. 2001. Seasonal changes of insect assemblages collected with surface water traps on the shore of an oxbow lake in Central Kalimantan, Indonesia with special reference to their length-frequency relationships. Annual Report for April 2000 – March 2001 of Environmental Conservation and Land Use Management of Wetland Ecosystem in Southeast Asia.

  1. Judul Artikel

Tinjauan limnologi perairan tawar Kalimantan Tengah

  1. Tujuan penulisan

Tujuan dari penulisan artikel ini untuk mengetahui kondisi limnologis ekosistem perairan tawar di Kalimantan Tengah sampai dengan tahun 2004.

  1. Fakta-fakta unik
  2. Pertanyaan yang muncul
  • Sungai-sungai di Kalimantan Tengah dapat digolongkan ke dalam tipe Sungai Permanen yaitu sungai yang airnya terisi dan mengalir sepanjang tahun.
  • Danau-danau di wilayah ini dapat digolongkan kedalam 3 tipe danau yang umumnya terjadi akibat dinamika hidrologi air sungai utama. Secara hidrologis sumber atau suplai air danau-danau oxbow dan limpasan banjir lainnya adalah umumnya berasal dari sungai utama.
  • Sumber air di sungai-sungai berasal dari sumber air bawah tanah yang muncul kepermukaan dan berasal dari air hujan melalui siklus hidrologi.
  • Kelimpahan fitoplankton cukup banyak
  • Berbeda dengan fitoplankton informasi mengenai zooplankton secara spasial di perairan Kal-Teng masih sedikit.
  • Sama halnya dengan zooplankton, informasi mengenai zoobenthos juga sangat terbatas secara spasial.
  • Informasi mengenai tumbuhan air di perairan Kal-Teng sangat terbatas.
  • Apakah kelimpahan fitoplankaton masih dpat terjaga?mengingat semakin banyak perairan tawar yang tercemar?
  • Bagaimanakah caranya menjaga keanekaragaman tersebut dan menjaga perairan tawar dari pencemaran yang kian banyak mencemari perairan tawar/
  • Bagaimana dengan tinjauan limnologi air tawar di daerah lain selain Kalteng?
  1. Konsep

Perairan pedalaman (inland water) diistilahkan bagi semua badan air yang berada di daratan. Ilmu yang mempelajari masalah perairan pedalaman atau perairan umum disebut Limnologi. Bentuk-bentuk perairan umum tawar alami yang telah dikenal luas ialah sungai (river atau stream), rawa (swamp) dan danau (lake). Selain alami perairan umum juga dapat dibentuk oleh manusia misalnya waduk (resevoir) dari sungai (waduk sunga) maupun dari rawa (waduk rawa) (Suwignyo, 1982). Air perairan pedalaman umumnya tawar meskipun ada beberapa badan air yang airnya asin; dimana air asin di daratan disebut athalassic saline water. Goldman and Horne (1983) menerangkan bahwa ilmu limnologi mencakup perairan tawar sampai dengan perairan estuaria (payau) di muara sungai.

Limnologi merupakan cabang ilmu ekologi yang secara khusus mempelajari perairan daratan. Sebelum mendiskusikan ekologi perairan tawar secara umum di Kalimantan Tengah, ada baiknya kalau kita melihat dulu kilas balik tentang sejarah penelitian ekologi.Perairan tawar di Indonesia secara  umum.

  1. Refleksi diri

Berdasarkan pengalaman penulis selama mengikuti perkuliahan limnologi dan KKL Lahor. Penulis dapat mengetahui lebih tentang perairan tawar dengan  mendapatkan teori-teori dan konsep di dalam kelas yang ditunjang dengan praktikum langsung ke lapangan. Oleh karena itu penulis jadi mengetahui apa itu perairan tawar dan limnologi. Dengan adanya teori dan praktikum di lapangan maka penulis dapat mengetahui bagaimana komposisi, kepadatan, keanekaragaman dari bentos dan fitoplankton serta produktifitas primer. Selain itu dengan membaca artikel ini semakin menambah pengetahuan dari penulis mengenai perairan tawar dan limnologi.

Analisis Kritis

  1. A. Rujukan

Soejarwoko , Destyan.  3 Mei 2009, Air Pelabuhan Tercemar Radioaktif,  (Online), (http://news.okezone.com/read/2009/05/02/1/216024/air-pelabuhan-tercemar-radioaktif, diakses tanggal 9 April 2009).

  1. B. Tujuan Penulisan Jurnal

Adapun tujuan dari penulisan artikel dengan judul Air Pelabuhan Tercemar Radioaktif ini adalah untuk memberikan informasi kepada masayarkat umum bahwa sumber air bersih di kawasan tanjung perak sudah mengalami pencemaran pada batas yang membahayakan, pencemaran yang terjadi di sumber air bersih di kawasan tanjung perak itu meliputi pencemaran oleh Bakteri E. coli dan zat radioaktif dari limbah kapal, sehingga masyarakat dapat berhati-hati dalam menggunakan air untuk minum, mandi ataupun mencuci.

  1. C. Fakta Baru
  2. D. Pertanyaan
·         Pencemaran tanah dan air di bawah tanah di kawasan Pelabuhan Tanjung Perak sangat parah.
·         Buruknya sanitasi dan buruknya sistem pengelolaan limbah industri diduga sebagi penyebabnya.
·         Sumber air bersih yang berasal dari bawah tanah tak layak untuk dikonsumsi. Hasil uji laboratorium BTKL atas beberapa sampel air tanah menyatakan kandungan E. coli dalam air bawah tanah di kawasan pelabuhan sangat tinggi.
·         Sumber pencemaran air tanah di Pelabuhan Tanjung Perak datang dari mana saja. Adapun area yang menjadi titik merah konsentrasi kebocoran limbah, seperti kawasan pelabuhan Nilam, Jamrud, serta Pelabuhan Kalimas.
·         Sumber pencemaran tidak hanya berasal dari limbah BBM industri maupun kapal, tapi ditengarai juga berasal dari kebocoran limbah kimia pabrik-pabrik di kawasan pelabuhan, zat logam berat, serta limbah kimia lain yang mengandung zat radio aktif.

Pertanyaan yang muncul setelah membaca artikel tersebut adalah bagaimana menanggulangi pencemaran yang telah terjadi tersebut.

  1. E. Solusi

Adapun solusi yang dapat diberikan sebagai usaha untuk menanggulangi pencemaran tersebut adalah:

  • Pengadaan alat pengolahan limbah, seperti pembuatan kolam pengolahan limbah. Untuk limbah industri dilakukan dengan mengalirkan air yang tercemar ke dalam beberapa kolam kemudian dibersihkan, baik secara mekanis (pengadukan), kimiawi (diberi zat kimia tertentu) maupun biologis (diberi bakteri, ganggang atau tumbuhan air lainnya). Pada kolam terakhir dipelihara ikan untuk menguji kebersihan air dari polutan yang berbahaya. Reaksi ikan terhadap kemungkinan pengaruh polutan diteliti. Dengan demikian air yang boleh dialirkan keluar (selokan, sungai, laut dll.) hanyalah air yang tidak tercemar.
  • Penegakan hukum atas para pelaku kejahatan lingkungan, dengan membuat UU tentang konservasi lingkungan.
  • Peningkatan penjagaan di daerah perairan seluruh Indonesia

Nama  : Jevinda W.T.F.

NIM    : 406342406035

Pencemaran Air oleh Logam Berat

Polusi air adalah penyimpangan sifat-sifat air dari keadaan normal, bukan dari kemurniannya. Ciri-ciri air yang mengalami polusi sangat bervariasi tergantung dari jenis air dan polutannya. Untuk mengetahui suatu air terpolusi atau tidak, diperlukan suatu pengujian untuk menentukan sifat-sifat air sehingga dapat diketahui apakah terjadi penyimpangan dari batasan polusi air. Baku mutu air golongan A yang sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Negara kependudukan dan Lingkungan Hidup, No: Kep-02/MENKLH/I/ 1988.

Kandungan maksimal logam yang diperbolehkan dalam air (dalam mg/L):
Kalsium (Ca): 200
Magnesium (Mg): 150
Barium (Ba): 0,05
Besi (Fe): 1
Mangan (Mn): 0,5
Tembaga (Cu): 1
Seng (Zn): 15
Krom heksavalen (Cr6+): 0,05
Kadmium (Cd): 0,01
Raksa (Hg): 0,001
Timbal (Pb): 0,1
Arsen (As): 0,05
Selenium (Se): 0,01

Logam berat, seperti merkuri (Hg), timbal (Pb), arsenik (As), kadmium (Cd), kromium (Cr), seng (Zn), dan nikel (Ni), merupakan salah satu bentuk materi anorganik yang sering menimbulkan berbagai permasalahan yang cukup serius pada perairan. Penyebab terjadinya pencemaran logam berat pada perairan biasanya berasal dari masukan air yang terkontaminasi oleh limbah buangan industri dan pertambangan.

Jenis-Jenis Industri Pembuang Limbah yang Mengandung Logam Berat :
Kertas: Cr, Cu, Hg, Pb, Ni, Zn
Petro-chemical: Cd, Cr, Hg, Pb, Sn, Zn
Pengelantang: Cd, Cr, Hg, Pb, Sn, Zn
Pupuk: Cd, Cr, Cu, Hg, Pb, Ni, Zn
Kilang minyak: Cd, Cr, Cu, Pb, Ni, Zn
Baja: Cd, Cr, Cu, Hg, Pb, Ni, Sn, Zn
Logam bukan besi: Cr, Cu, Hg, Pb, Zn
Kendaraan bermotor, pesawat terbang: Cd, Cr, Cu, Hg, Pb, Sn, Zn
Gelas, semen, keramik: Cr
Tekstil: Cr
Industri kulit: Cr
Pembangkit listrik tenaga uap: Cr, Zn

Logam berat memiliki densitas yang lebih dari 5 gram/cm3 dan logam berat bersifat tahan urai. Sifat tahan urai inilah yang menyebabkan logam berat semakin terakumulasi di dalam perairan. Logam berat yang berada di dalam air dapat masuk ke dalam tubuh manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Logam berat di dalam air dapat masuk secara langsung ke dalam tubuh manusia apabila air yang mengandung logam berat diminum, sedangkan secara tidak langsung apabila memakan bahan makanan yang berasal dari air tersebut. Di dalam tubuh manusia, logam berat juga dapat terakumulasi dan menimbulkan berbagai bahaya terhadap kesehatan.

Bahaya yang Dapat Ditimbulkan oleh Logam Berat di dalam Tubuh Manusia :
Barium (Ba): Dalam bentuk serbuk, mudah terbakar pada temperatur ruang. Jangka panjang, menyebabkan naiknya tekanan darah dan terganggunya sistem syaraf.
Cadmium (Cd): Dalam bentuk serbuk mudah terbakar. Beracun jika terhirup dari udara atau uap. Dapat menyebabkan kanker. Larutan dari kadmium sangat beracun. Jangka panjang, terakumulasi di hati, pankreas, ginjal dan tiroid, dicurigai dapat menyebabkan hipertensi
Kromium (Cr): Kromium hexavalen bersifat karsinogenik dan korosif pada jaringan tubuh. Jangka panjang, peningkatan sensitivitas kulit dan kerusakan pada ginjal
Timbal (Pb): Beracun jika termakan atau terhirup dari udara atau uap. Jangka panjang, menyebabkan kerusakan otak dan ginjal; kelainan pada kelahiran
Raksa (Hg): Sangat beracun jika terserap oleh kulit atau terhirup dari uap. Jangka panjang, beracun pada sistem syaraf pusat, dapat menyebabkan kelainan pada kelahiran.
Perak (Ag): Beracun. Jangka panjang, pelunturan abu-abu permanen pada kulit, mata dan membran mukosa (mucus)

ANALISIS KRITIS LIMNOLOGI

  1. Identitas artikel

Nurdizini. Maret 05, 2008. Polusi Air oleh Logam Berat. (online) http://www.forum.kafegaul.com/showthread.php?p=8588563. diakses tanggal 10 Mei 2009.

  1. Tujuan penulis menulis artikel
  • Memberikan informasi kepada pembaca tentang pengertian polusi air.
  • Memberikan informasi kepada pembaca tentang jenis-jenis industri pembuang limbah yang mengandung logam berat
  • Memberikan informasi kepada pembaca mengenai bahaya yang dapat ditimbulkan oleh logam berat di dalam tubuh manusia.
  • Logam berat, seperti merkuri (Hg), timbal (Pb), arsenik (As), kadmium (Cd), kromium (Cr), seng (Zn), dan nikel (Ni), merupakan salah satu bentuk materi anorganik yang sering menimbulkan berbagai permasalahan yang cukup serius pada perairan
  • Logam berat yang berada di dalam air dapat masuk ke dalam tubuh manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Logam berat di dalam air dapat masuk secara langsung ke dalam tubuh manusia apabila air yang mengandung logam berat diminum, sedangkan secara tidak langsung apabila memakan bahan makanan yang berasal dari air tersebut. Di dalam tubuh manusia, logam berat juga dapat terakumulasi dan menimbulkan berbagai bahaya terhadap kesehatan.
  1. Fakta-fakta unik yang terdapat dalam artikel
  1. Pertanyaan yang muncul setelah menganalisis artikel
  • Berapa kandungan maksimal logam yang diperbolehkan dalam air (dalam mg/l) ?
  • Apakah bahaya yang ditimbulkan oleh logam berat di dalam tubuh manusia?
  1. Konsep-konsep penting yang terdapat dalam artikel
  • Polusi air adalah penyimpangan sifat-sifat air dari keadaan normal, bukan dari kemurniannya. Ciri-ciri air yang mengalami polusi sangat bervariasi tergantung dari jenis air dan polutannya.
  • Jenis-Jenis Industri Pembuang Limbah yang Mengandung Logam Berat :
    Kertas: Cr, Cu, Hg, Pb, Ni, Zn
    Petro-chemical: Cd, Cr, Hg, Pb, Sn, Zn
    Pengelantang: Cd, Cr, Hg, Pb, Sn, Zn
    Pupuk: Cd, Cr, Cu, Hg, Pb, Ni, Zn
    Kilang minyak: Cd, Cr, Cu, Pb, Ni, Zn
    Baja: Cd, Cr, Cu, Hg, Pb, Ni, Sn, Zn
    Logam bukan besi: Cr, Cu, Hg, Pb, Zn
    Kendaraan bermotor, pesawat terbang: Cd, Cr, Cu, Hg, Pb, Sn, Zn
    Gelas, semen, keramik: Cr
    Tekstil: Cr
    Industri kulit: Cr
    Pembangkit listrik tenaga uap: Cr, Zn
  1. Aplikasi yang dapat dilakukan setelah menganalisis artikel

Setelah membaca artikel mengenai polusi air oleh logam berat, maka saya harus lebih waspada terhadap penyakit yang ditimbulkan akibat dari bahaya logam berat. Sehingga saya harus selalu menjaga kesehatan dengan cara mengkonsumsi air yang sebelumnya disterilkan terlebih dahulu.

  1. Refleksi diri

Setelah membaca artikel dan menganalisisnya, maka saya harus lebih hati-hati dalam menjaga kesehatan dengan memperhatikan keadaan air yang akan saya konsumsi yaitu dengan cara disterilkan dan di pasteurisasai atau mengkonsumsi air minum yang sudah teruji kesehatannya.

Nama  : Uswatun Hasanah

NIM    : 305342481446

Judul  : Pengolahan Ekosistem Air tawar di danau

Identitas naskah: Gumilar, iwang.2005. Pengolahan Ekosistem Air tawar di danau.Online, http://www.ekologi.multiply.om/. Diakses 20 mei 2009.

Tujuan penulisan naskah: untuk memberi penjelasan pada pembaca tentang pentingnya memelihara perairan air tawar khususnya danau, serta memeberikan informasi menegenai pentingnya keberadaan danau bagi kehidupan manusia.

Fakta unik: 1)Hubungan antara organisme dan lingkungan fisiknya begitu erat dan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain. Mengubah hubungan organisme dan lingkungan fisiknya berarti melakukan perubahan terhadap susunan dan struktur biotik dan abiotik, atau mengubah lingkungan hidup yang bermuara pada munculnya berbagai dampak dan resiko bagi manusia itu sendiri.

2) Keberadaan sumber air di danau tidak terlepas dari tinjauan aspek hidrologis, topografis, geologis dan aspek lainya yang tercakup dalam satu sistem pengelolaan sumber daya air di danau. Hujan jatuh ke bumi, sebagian meresap kedalam bumi sebagian lagi merambat melalui permukaan tanah, mengalir melalui celah-celah dan sungai kecil, kemudian mencapai danau. Aliran air permukaan akan seluruhnya mencapai danau dalam waktu singkat jika tidak ada retensi dari vegetasi di daerah tangkapan air (catchment area) danau.

Pertanyaan:1) Bagaimana cara mengatasi suatu danau yang telah tercemar dan bagaimana cara menyelamatkan organisme yang hidup dilingkungan tersebut?

2) mengapa jika volume air di danau melimpah ruah dapat menganggu keseimbangan ekosistem di danau tersebut?

Manfaat setelah membaca artikel: 1) mengetahui tentang pentingnya menjaga perairan air tawar khususnya danau.

2) Mengetahui cara menjaga danau agar tidak rusak oleh tingkah laku manusia.

3) mengetahui cara pengolahan perairan air tawar di danau.

Kaitannya dengan sains: Manusia mempunyai hubungan yang sangat erat dengan ekosistem.

Plankton Reduksi Emisi Gas Karbon

Happy Mayasari

905342479128

Menjelang Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Perubahan Iklim di Bali pada Desember mendatang, perhatian dunia terarah ke Indonesia. Ironisnya, yang diperhatikan adalah “sumbangan” negara pemilik hutan terluas kedua di dunia ini dalam mengotori atmosfer dengan gas karbon dioksida. Padahal, dengan hutannya, Indonesia dapat mereduksi emisi gas karbon dioksida (CO2) (salah satu gas rumah kaca penyebab pemanasan global) dengan hutannya dan dengan biota lautnya yang begitu melimpah.

Selama ini kawasan hutan disebut-sebut sebagai paru-paru dunia pemeran utama penyerapan gas CO2. Pelestarian hutan menjadi tuntutan terdepan para pencinta lingkungan untuk menyelamatkan bumi. Namun sebenarnya bukan hanya hutan yang mampu menyerap CO2. Laut juga merupakan sebuah ekosistem yang mampu mereduksi CO2 melalui plankton yang hidup di dalamnya. Di dalam laut tersembunyi biota laut penyerap karbon yang potensial. Biota laut itu di antaranya adalah jenis alga (algae) dan plankton (disebut juga mikroalga).

Penelitian tentang tingkat serapan CO2 oleh jasad renik dan tumbuhan di laut belum banyak dilakukan. Yang merintis penelitian itu di antaranya Jepang, yang melakukan penelitian rumput laut beberapa tahun terakhir ini. Kini ada sekitar 11 negara yang tertarik melakukan penelitian yang sama. “Indonesia sendiri juga akan melakukan riset daya serap gas karbon oleh rumput laut itu, mulai tahun ini,” ujar Jana T Anggadiredja, Deputi Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, pakar rumput laut. Pihak BPPT telah menyusun Peta Jalur atau Roadmap Rekayasa Atmosfer yang salah satunya akan mengangkat topik itu untuk mengatasi pemanasan global atau perubahan iklim. Dalam riset tentang peran laut dalam menyerap gas karbon tersebut, juga akan dilihat kemampuan berbagai mikro alga dan spons mereduksi CO2 dari udara. Penelitian ini akan melibatkan lembaga riset terkait, seperti Pusat Penelitian Oseanologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Riset karbon

Penelitian tentang pengendapan karbon di perairan secara alami atau carbon sink sebenarnya telah dilakukan dua tahun lalu di Indonesia. Menurut Rahmania Amirasari, peneliti fitoplankton di Pusat Teknologi Lingkungan BPPT, riset itu dilakukan BPPT di Sungai Brantas dan di Teluk Jakarta. Di Jakarta, dilakukan penelusuran aliran air dari estuari sampai ke muara sungai di Teluk Jakarta, dan diteliti dinamika kelautan yang terjadi, termasuk peran biota di dalamnya, di antaranya peran fitoplankton.

Selama ini penelitian fitoplankton BPPT sejak tahun 1997 bertujuan mendeteksi adanya kelimpahan populasi alga (algae blooming). Selama ini ledakan perkembangbiakan alga ini selalu dikaitkan dengan pencemaran zat organik di perairan. Kini peneliti melihat kemungkinan lain terjadinya fenomena itu yang diakibatkan oleh perubahan iklim dan anomali cuaca. Rahmania melihat di Indonesia prospek fitoplakton sebagai tumbuhan air yang menyerap karbon sangat besar. Wilayah laut Indonesia meliputi 70 persen dari total wilayahnya sehingga kandungan biomassanya jauh lebih banyak dibandingkan dengan tumbuhan di darat.

Mulai tahun 2008, melalui program yang disebut Global Warming dibentuk beberapa kelompok penelitian, meliputi pengaktifan CO2 sink, pemodelan dan mitigasi bencana cuaca, teknologi modifikasi cuaca, dan penyusunan kebijakan terkait pemanasan global. Khusus pada kelompok yang melakukan pengaktifan CO2 sink akan dikembangkan teknik rekayasa “pohon buatan” dan penyerapan CO2 secara biologis (biological pumping) oleh fitoplankton. CO2 ini diserap fitoplankton untuk pertumbuhan dan mereproduksi diri.

Pengambilan CO2 di daerah daratan mencapai hingga satu giga ton per tahun. Di laut jumlahnya dua kali lipat. Daya serap CO2 oleh fitoplankton saja bisa 200 kali lipat dibandingkan penyerapan oleh tumbuhan darat. Di lautan terdapat ratusan jenis fitoplankton. Akibatnya, potensi Indonesia mengisap CO2 di laut sangat tinggi. Ini dapat dimasukkan dalam perhitungan Neraca CO2 dan diajukan untuk ’perdagangan karbon’ negara maju.

Sementara itu, penelitian di University of New Zealand menunjukkan, satu miligram klorofil fitoplakton dapat menyerap 1,65 miligram CO2. Ketika gas karbon mengendap ke permukaan air, maka akan berubah menjadi dua, yaitu karbon organik partikulat dan karbon organik terurai. Karbon partikulat akan tenggelam ke dasar laut. Sebagian lainnya akan dimakan biota laut.

Hasil dekomposisi oleh organisme ini kemudian terangkat lagi oleh arus naik dan menjadi santapan plankton. Begitulah daur pemanfaatan karbon di perairan. Fitoplankton yang mati dan tenggelam di dasar laut selanjutnya akan didegradasi oleh bakteri menjadi kalsium karbonat. Fitoplankton termasuk organisme renik (berukuran sekitar 20 mikron) bersel tunggal dan bergerak mengikuti arus laut. Biota berklorofil ini menjadi santapan organisme lainnya yang lebih besar, seperti zooplankton dan ikan.

Meskipun daya serap gas karbon di perairan cukup tinggi, polusi CO2 sampai tingkat tertentu di udara dapat berdampak negatif bagi kehidupan biota laut. Seperti di darat, tingginya emisi CO2 dapat menaikkan tingkat keasaman air laut yang bersifat korosif sehingga berdampak negatif bagi lingkungan kelautan, antara lain akan mengikis lapisan luar terumbu karang jenis Emiliana yang berbentuk bulat.

Foto bioreaktor

Untuk meningkatkan sistem penyerapan karbon di Indonesia, BPPT akan mengembangkan teknik pengembangbiakan fitoplankton yang disebut Foto Bio Reactor. Untuk itu akan dicari jenis fitoplankton yang memiliki pertumbuhan yang cepat, seperti Chaetoceros dan Skeletonema.

Menurut Rahmania, daya serap fitoplankton dibandingkan dengan rumput laut dalam kurun waktu yang sama lebih besar karena siklus hidup plankton lebih cepat. Dengan demikian prospeknya lebih baik dibandingkan dengan rumput laut. Tujuan riset ini untuk mengetahui tingkat penyerapan CO2 dari spesies fitoplankton tersebut. Dari kultur pada bioreaktor ini dapat diketahui spesies yang unggul. Target selanjutnya adalah mengembangkan desain reaktor untuk mendapatkan siklus hidup fitoplankton yang lebih panjang. Selain itu dikembangkan tangki untuk panen.

Pembangunan pabrik skala laboratorium di Serpong yang melibatkan LIPI dan IPB akan dimulai Januari tahun depan dan diperkirakan akan mulai beroperasi Juni 2008. Penelitian yang menyerap dana sekitar Rp 500 juta ini akan berlangsung hingga tahun 2010. Selanjutnya BPPT merencanakan pengembangan fitoplankton air tawar.

Pengembangan foto bioreaktor ini akan mengacu pada teknik yang dikembangkan di Jerman. Di Universitas Bremen bioreaktor yang diisi fitoplankton diterapkan untuk menyerap CO2 hasil pembakaran pada pembangkit listrik tenaga batubara. Untuk kapasitas 5.000 ton per hari, CO2 yang diserap mencapai satu persennya. Pada tahap pertama daya serapnya 500 ton gas karbon per tahun. Pengembangan teknologi ini targetnya 15.000 ton CO2 per tahun.

Di Jerman, penggunaan fitoplankton pada bioreaktor diterapkan pada kendaraan disebut green box, untuk mereduksi emisi karbon dari knalpot. Di Norwegia penyerapan karbon di perairan menggunakan kantong plastik hampa udara yang ditempatkan di permukaan laut, sedangkan di AS digunakan sistem pemompaan berdasarkan gelombang untuk membuat ledakan pertumbuhan fitoplankton. Hal ini membuat massa air naik buatan sehingga CO2 terserap.

Melihat prospek pemanfaatan sumber daya hayati kelautan yang cerah, maka Indonesia memiliki alternatif dalam upaya menyerap gas rumah kaca dan dapat berperan dalam menekan dampak perubahan iklim serta pemanasan global di masa mendatang.

Sumber: Ikawati, Yuni. 2007. Plankton Reduksi Emisi Gas Karbon. (Online), http:// http://www.pelangi.or.id/othernews.php?nid=3385. Diakses 12 Mei 2009.

Nama  : Happy Mayasari

Nim     : 905342479128

ANALISIS KRITIS

  1. Judul: Plankton Reduksi Emisi Gas Karbon
  1. Sumber Artikel

Ikawati, Yuni. 2007. Plankton Reduksi Emisi Gas Karbon. (Online), http:// http://www.pelangi.or.id/othernews.php?nid=3385. Diakses 12 Mei 2009.

3. Tujuan Penulisan

Dalam penulisan artikel ini penulis bertujuan untuk:

  • memberikan informasi tentang pemanfaatan plankton sebagai reduktor emisi gas karbon.
  • penelitian ini menunjukkan bahwa fitoplankton dapat menyerap CO2 secara biologis, CO2 ini diserap fitoplankton untuk pertumbuhan dan mereproduksi diri.

4. Fakta Unik

Adapun fakta-fakta yang unik yang terdapat dalam artikel ini adalah:

  • Selama ini kawasan hutan disebut-sebut sebagai paru-paru dunia pemeran utama penyerapan gas CO2. Namun sebenarnya bukan hanya hutan yang mampu menyerap CO2. Laut juga merupakan sebuah ekosistem yang mampu mereduksi CO2 melalui plankton yang hidup di dalamnya. Di dalam laut tersembunyi biota laut penyerap karbon yang potensial. Biota laut itu di antaranya adalah jenis alga (algae) dan plankton (disebut juga mikroalga).
  • penelitian di University of New Zealand menunjukkan, satu miligram klorofil fitoplakton dapat menyerap 1,65 miligram CO2. Ketika gas karbon mengendap ke permukaan air, maka akan berubah menjadi dua, yaitu karbon organik partikulat dan karbon organik terurai. Karbon partikulat akan tenggelam ke dasar laut. Sebagian lainnya akan dimakan biota laut. Hasil dekomposisi oleh organisme ini kemudian terangkat lagi oleh arus naik dan menjadi santapan plankton.
  • Untuk meningkatkan sistem penyerapan karbon di Indonesia, BPPT akan mengembangkan teknik pengembangbiakan fitoplankton yang disebut Foto Bio Reactor. Tujuan riset ini untuk mengetahui tingkat penyerapan CO2 dari spesies fitoplankton tersebut. Dari kultur pada bioreaktor ini dapat diketahui spesies yang unggul. Target selanjutnya adalah mengembangkan desain reaktor untuk mendapatkan siklus hidup fitoplankton yang lebih panjang. Selain itu dikembangkan tangki untuk panen.

5.  Pertanyaan yang Muncul

Pertanyaan yang muncul setelah membaca artikel ini yaitu:

  • Apakah teknologi tersebut dapat diterapkan dengan menggunakan semua jenis fitoplankton yang ada di Indonesia?
  • Apakah teknik tersebut dapat diterapkan pada semua perairan yang mengandung fitoplankton, baik perairan darat maupun laut?
  • Bagaimana teknik atau melanisme Foto Bio Reactor tersebut?

6. Kelebihan

Isi yang disajikan dalam artikel ini cukup lengkap, yakni sudah berisi penjelasan teknologi yang dimaksudkan yaitu Foto Bio Reactor dan kegunaannya. Artikel tersebut juga sudah dilengkapi dengan data-data pendukung (penelitian pendukung) sehingga membuat artikel ini lebih dapat dipercaya kebenarannya.

7. Kekurangan

Pada artikel ini tidak dilengkapi dengan metode yang menjelaskan tentang teknik Foto Bio Reactor, sehingga pembaca menjadi sedikit mengalami kesulitan untuk membayangkannya.

8. Refleksi Diri

Posted on: May 21, 2009

Tugas Limnologi

Nama: Ahmad Nizarul Fanani

NIM: 406342401298

Fenomena Situ Gintung

Sebelum membahas situ gintung, ada baiknya kita mengetahui dahulu mengenai apa pengetian situ. Menurut Dept PU tentang Penataan Ruang :

Situ adalah wadah genangan air di atas permukaan tanah yang terbentuk secara alamiah dan atau air permukaan sebagai siklus hidrologi, dan merupakan salah satu bagian yang juga berperan potensial dalam kawasan lindung. Sedangkan dari sisi pengairan didefinisikan sebagai waduk yaitu bangunan untuk menampung air pada waktu terjadi surplus air di sumber air agar dapat dipakai sewaktu-waktu terjadi kekurangan air, sehingga fungsi utama waduk adalah untuk mengatur sumber air, yang termasuk jenis bangunan ini antara lain adalah:

Waduk buatan/bendungan, Waduk lapangan (pengempangan mata air), Embung (sejenis waduk kecil di NTB), Situ (sejenis waduk kecil di jawa barat).

Sedangkan Situ Gintung adalah danau kecil buatan yang terletak Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Lokasi danau ini berada di sebelah barat daya kota Jakarta. Danau seluas 21,4 ha (2008) ini telah berubah fungsi, dimanfaatkan sebagai tempat wisata taman. Awal pembentukan situ (danau) ini adalah sebagai waduk yang berfungsi sebagai tempat penampungan air hujan dan untuk perairan ladang pertanian di sekitarnya, dibuat antara tahun 19321933 dengan luas awal 31 ha. Kapasitas penyimpanannya mencapai 2,1 juta meter kubik. Situ ini adalah bagian dari Daerah Aliran Cisadane merupakan salah satu sungai utama Propinsi Banten dan Jawa Barat sumber berasal dari Gunung Salak dan Gunung Pangrango di (Kabupaten Bogor, sebelah selatan Kabupaten Tangerang) yang mengalir ke Laut Jawa panjang sungai ini sekitar 80 km dan bendungan aliran Kali Pesanggrahan. Di tengah-tengah situ terdapat sebuah pulau kecil yang menyambung sampai ke tepi daratan seluas kurang lebih 1,5 ha yang bernama Pulau Situ Gintung beserta hutan tanaman yang berada sekitarnya.

Namun jebolnya tanggul memporakporandakan kawasan wisata ini, Pada tanggal 27 Maret 2009 dini hari. Dari faktor internal, Situ Gintung yang dibangun Pemerintah Belanda tahun 1933 telah mengalami sejumlah degradasi. Bendungan seluas 31 hektare dengan kedalaman 10 meter saat dibangun kini hanya 21 hektare dan berkedalaman 3-4 meter. Kondisi ini tentu saja berpengaruh terhadap daya tampungnya yang semakin menurun. Namun demikian, bendungan itu seharusnya dikelola sedemikian rupa sehingga bahaya dapat diantisipasi sebelumnya.

Bencana jebolnya Situ Gintung di Ciputat, Banten, baru-baru ini bisa menjadi pelajaran yang membuka mata banyak pihak bahwa betapa perlunya situ-situ diperhatikan dan dipelihara. Sebenarnya situ bukanlah sekadar cekungan pada permukaan tanah yang kemudian terisi air. Lebih dari itu, ia memiliki fungsi utama. Setidaknya ada situ yang berfungsi menginfiltrasi air tanah, mencegah banjir, sebagai kolam perikanan, atau tempat wisata. Sayangnya, nasib situ-situ semakin hari kian merana. Penelitian Limnologi terhadap situ-situ itu bersifat holistik, baik dari aspek kualitas air, aspek hidrologi, maupun aspek perikanan. Misalnya penelitian aspek kualitas pada situ-situ di Jabodetabek, khususnya di daerah aliran sungai Cisadane, pada 2003. Penelitian ini dengan melihat status tropik (tingkat kesuburan) perairan sebagai indikator kerusakan situ.

Indikator itu terdiri atas faktor fisik, seperti kuantitas air berapa volumenya, lalu arusnya bagaimana, sedimen seperti apa. Dari segi kimianya, kita mengukur berapa oksigen terlarutnya. Lalu juga segi biologinya, seperti ikan, tumbuhan air, fitoplankton sebagai makanan ikan, bakteri, dan sebagainya.

Gambar situ gintung sebelum jebol                         gambar situ setelah jebol (sekarang)

May 2017
M T W T F S S
« Jun    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Pages

Recent Comments

Mr WordPress on Hello world!

Blog Stats

  • 5,877 hits

Top Posts

Top Clicks

  • None